Harga Minyak Dunia Mulai Turun

Harga Minyak Dunia Mulai Turun

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 07 Mei 2026 21:13 WIB
Harga Minyak Dunia
Ilustrasi.Foto: Harga Minyak Dunia (Denny Pratama/detikcom)
Jakarta -

Harga minyak mentah dunia turun hingga ke bawah level US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Penurunan ini terjadi seiring perkembangan penyelesaian konflik di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Melansir CNBC, Kamis (7/5/2026), harga minyak mentah Brent berjangka yang kerap digunakan sebagai patokan global untuk pengiriman Juli hari ini turun 1,85% menjadi US$ 99,40 per barel.

Sementara untuk harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak berjangka untuk bulan Juni malah naik 1,85% menjadi US$ 93,21 per barel pada perdagangan hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahli strategi ekuitas Citi AS, Scott Chronert, berpendapat gejolak harga minyak hari ini sangat berkaitan dengan penilaian investor terkait perkembangan konflik di Timur Tengah. Sebab menurutnya lama konflik berlangsung akan sangat memengaruhi perekonomian global secara lebih luas.

"Durasi konflik dan implikasinya terhadap harga minyak yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama merupakan hal penting terkait ekspektasi pertumbuhan di masa depan bagi banyak bagian pasar, serta bagaimana hal itu memengaruhi pemikiran The Fed dalam hal dinamika suku bunga," kata Chronert di acara Squawk Box CNBC.

ADVERTISEMENT

Dalam konteks ini, penurunan harga minyak didorong oleh sentimen positif dari laporan AS telah mengirimkan nota kesepahaman satu halaman kepada Iran melalui perantara Pakistan. Dokumen tersebut disebut bertujuan untuk mengakhiri konflik secara resmi sekaligus membentuk kerangka pembukaan bertahap Selat Hormuz.

Sementara kenaikan harga didorong oleh pernyataan Presiden (AS) Donald Trump bahwa pihaknya akan bom Iran pada tingkat yang jauh lebih tinggi jika tidak menyetujui kesepakatan damai, yang meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa negosiasi Iran-AS untuk mengakhiri perang masih rapuh.

Kedua sentimen inilah yang kemudian membuat harga minyak mentah naik turun. Di mana dalam kasus minyak Brent harga berakhir turun, sementara WTI mengalami kenaikan.

Sebagai informasi, sebelumnya Trump mengatakan operasi militer AS yang disebut sebagai Operation Epic Fury akan segera dihentikan jika Iran menyetujui kesepakatan yang telah dibahas.

Jika itu terjadi, blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran di Teluk Oman akan dicabut sehingga Selat Hormuz bisa kembali terbuka untuk semua pihak, termasuk Iran.

"Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," ujar Trump dalam unggahan media sosial miliknya.

Pernyataan Trump muncul setelah laporan Axios menyebut AS dan Iran hampir mencapai nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin untuk mengakhiri perang dan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan.

Tak lama setelah Trump menyampaikan ancaman itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan Teheran masih mempelajari proposal itu dan akan menyampaikan respons melalui mediator di Pakistan.

Dalam unggahan di X, Baqaei menyinggung bahwa negosiasi membutuhkan itikad baik dan bukan tekanan atau pemaksaan.

"Konsep 'negosiasi' setidaknya membutuhkan upaya tulus untuk terlibat dalam diskusi dengan tujuan menyelesaikan sengketa. Oleh karena itu, dibutuhkan 'itikad baik', yang berarti bahwa 'negosiasi' bukanlah 'perselisihan'; juga bukan 'dikte', 'penipuan', 'pemerasan' atau 'pemaksaan'," tulis Baqaei.

(igo/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads