Pertamina Pasok BBM hingga Pelosok Tanah Air, Begini Prosesnya

Pertamina Pasok BBM hingga Pelosok Tanah Air, Begini Prosesnya

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 07 Mei 2026 23:12 WIB
Petugas SPBU menuangkan BBM ke kendaraan konsumen di Kampung Susumuk, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Kamis (24/8/2023). Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku bersama Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas dan Kementerian ESDM mer
Ilustrasi.Foto: ANTARA FOTO/OLHA MULALINDA
Jakarta -

Wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) selama ini sulit mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini disebabkan akses menuju wilayah 3T begitu menantang melalui medan yang sulit dan panjang.

Tantangan geografis dan akses infrastruktur terbatas tak menjadi halangan bagi PT Pertamina (Persero) untuk memasok kebutuhan energi ke wilayah 3 T.

Salah satunya seperti di salah satu bagian timur Indonesia yakni Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku melalui Fuel Terminal Dobo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi negara melalui Pertamina hadir di masyarakat untuk mensuplai BBM di sana. Karena BBM merupakan hal yang sangat penting dan vital bagi masyarakat untuk mendukung ekonomi masyarakat di langsung. Untuk keperlangsungan ekonomi masyarakat di sana," ujar Supervisor 1 Receiving, Storage, and Distribution (RSD) di Fuel Terminal Dobo, Gigi Aji Cicaksono, dalam acara PertaminaTalks di Menara Bank Mega, Kamis (7/5/2026).

Secara sederhana, Gigi menjelaskan penyaluran BBM di Fuel Terminal Dobo untuk Kepulauan Aru dan sekitarnya dimulai dari pengiriman bahan bakar menggunakan kapal-kapal tanker Pertamina. BBM tersebut kemudian disimpan untuk kemudian disalurkan dengan moda transportasi lain semisal dengan mobil atau kapal tangki.

ADVERTISEMENT

"Singkatnya ini, kami, saya dan tim RSD itu sebagai garda terdepan sebelum BBM diterima di masyarakat. Jadi dari prosesnya itu kami menerima BBM dari kapal. Kemudian kami simpan di storage kami. Lalu kemudian kami distribusikan ke masyarakat melalui moda transportasi yang selanjutnya," jelas Gigi.

Jadi dari proses penerimaan tadi, kami salurkan melalui pool tengki. Kemudian dari mobil tengki, disalurkan lagi ke kapal-kapal untuk didistribusikan ke SBPU-SBPU yang ada di seluruh pulau di Kabupaten Kepulauan Aru," sambungnya.

Namun proses ini tidak selalu mulus. Sebab di kawasan itu, kondisi cuaca kerap menjadi tantangan terbesar dalam proses distribusi energi, yang mana normalnya disalurkan bisa mencapai 2 hari, apabila cuaca sedang tidak bagus pengiriman pun bisa terlambat jadi 14 hari alias 2 minggu.

"Tantangan terbesar kami itu dari segi alam, cuaca, terutama pada saat pengiriman BBM ke pulau-pulau sendiri. Karena cuaca di Dobo ini berubah-berubah. Itu menghalangi proses pengiriman BBM dari Dobo ke lembaga penyalur, yang estimasi awalnya itu dari 3 hari bisa molor bahkan sampai 14 hari," terang Gigi.

Meski melalui berbagai rintangan, Gigi memastikan seluruh produk Pertamina yang disalurkan di wilayah 3T memiliki kualitas yang sama dengan di kota-kota besar dan seluruh wilayah Indonesia lainnya.

"Tentunya untuk mitigasi resikonya sendiri, kami melakukan penyegelan di mobil tengki. Kami melakukan pengawasan dari segi titik seterah terima sampai ke titik suplainya di SBPU, dan kami pastikan juga bahwasannya kualitas BBM yang diterima di pelosoknya Dobo dengan di Jakarta ini masih tetap sama," tegas Gigi.

(igo/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads