Pemerintah mempercepat pembangunan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui penandatanganan perjanjian kerja sama antara pemerintah daerah dan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) yang berada di bawah naungan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Dalam kesempatan ini, terdapat enam wilayah aglomerasi Kabupaten/Kota yang secara resmi menjalani kerja sama proyek PSEL yakni Lampung Raya, Serang Raya, Medan Raya, Semarang Raya, Kabupaten Bekasi, dan Bogor Raya 2.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pelaksanaan proyek 'sulap' sampah menjadi listrik dibagi dalam beberapa gelombang. Di mana untuk gelombang pertama ini dilaksanakan pada wilayah-wilayah yang sudah masuk dalam kondisi darurat sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang kita bahas hari ini itu yang kategori darurat, yang open dumping, yang sudah numpuk-numpuk, sudah dikategorikan darurat," kata Zulhas dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama antara pemda dengan Danantara, di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).
Untuk diketahui, ini merupakan kedua kalinya proses penandatanganan perjanjian kerja sama antara pemerintah daerah dengan BUPP pengelola sampah menjadi energi listrik dilakukan.
Sebelumnya sudah ada lima wilayah aglomerasi yang resmi menjalin kerja sama proyek PSEL yakni Kota Bekasi, Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, serta Kota Denpasar dan Kabupaten Badung di Bali.
"Dalam rangka mempercepat perintah Bapak Presiden, beliau mengatakan tidak mungkin kita akan jadi negara yang maju kalau sampah saja kita tidak bisa selesaikan," ucapnya.
Dalam hal ini, pemerintah menargetkan sebanyak 25 unit pembangkit listrik tenaga sampah akan selesaikan dibangun dalam dua tahun ke depan dan beroperasi penuh pada 2028 mendatang.
"Dalam 3 tahun ke depan, harus kita selesaikan 25 lokasi yang mencakup 62 kabupaten kota, yang darurat yang (jumlah sampah tertampung) di atas 1.000 ton (per hari)," ujar Zulhas.
"Kita akan selesaikan prosesnya 6 bulan administrasi, pembangunan 2 tahun. Sehingga 2027 separuh selesai, 2028 bulan Mei InsyaAllah semuanya selesai," katanya lagi.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan proyek ubah sampah menjadi energi ini membutuhkan total dana sekitar US$ 5 miliar.
"Jadi total itu kan total proyek itu US$ 5 miliar untuk semuanya, per proyek itu kurang lebih US$ 150 juta atau hampir Rp 2,7 triliun ya," kata Pandu saat ditemui usai acara penandatanganan.
Dalam hal ini, Pandu menegaskan dana pembangunan tak semuanya ditanggung oleh Danantara maupun Pemda terkait. Namun turut didanai melalui skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha) dari perusahaan-perusahaan pemenang tender proyek pembangkit listrik tenaga sampah ini.
"Kan ada kontraktor juga, ada investor lain yang masuk. Jadi mereka kan, kita memilih sesuai dengan teknologi yang terbaik. Jadi kita akan buka yang tahap kedua, kita akan buka sebentar lagi, itu ya kita akan mencari partner-partner yang terbaik. Sudah hampir 100 lebih kok yang mendaftar," jelasnya.
(igo/fdl)










































