Iran memulihkan lini produksi gas di tiga platform lepas pantai di ladang gas South Pars, Minggu (31/5/2026). Ini menjadi tonggak penting bagi Teheran memperbaiki kembali perekonomian dan infrastruktur energinya yang lumpuh sempat lumpuh.
Melansir Al Jazeera, Senin (1/6/2026), sebelumnya fasilitas energi vital tersebut sempat rusak setelah jadi target serangan udara militer Israel pada Maret lalu. Hal ini sempat memicu serangan balasan rudal dan drone Iran terhadap infrastruktur energi di seluruh wilayah yang lebih luas.
Israel juga menyerang fasilitas petrokimia terbesar Iran, kompleks Petrokimia South Pars, di wilayah pesisir selatan Asaluyeh, pada awal April.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di luar itu serangan udara AS-Israel juga menghantam sebagian besar infrastruktur negara itu, termasuk depot minyak di ibu kota.
Meski saat itu ketiga platform pengolahan gas tersebut tidak mengalami kerusakan yang serius, namun lini produksi dari tetap harus dialihkan ke pabrik pengolahan lain di wilayah tersebut.
Di saat yang bersamaan, Pars Oil and Gas Company (POGC) selaku BUMN operator dari fasilitas pengolahan minyak dan gas itu terus melakukan perbaikan.
"Iran mencoba mengirimkan pesan bahwa mereka sedang berusaha membangun kembali fasilitas yang menjadi sasaran," terang Tohid Asadi selaku jurnalis dari Al Jazeera melaporkan dari ibu kota Iran, Teheran.
Terletak di lepas pantai provinsi Bushehr selatan Iran, ladang gas South Pars adalah sumber energi domestik terbesar bagi negara tersebut, yang seringkali kesulitan menghasilkan listrik yang cukup.
Dengan luas 9.700 km persegi (3.745 mil persegi), ladang gas ini dibagi antara Iran dan Qatar, dengan sisi Iran dikenal sebagai South Pars dan sisi Qatar disebut North Field.
"Pembukaan kembali fasilitas tersebut tentu saja merupakan langkah maju pertama yang penting. Namun, kita harus menunggu dan melihat apakah Iran akan sesukses itu dalam hal mengekspor energinya," sambungnya.
(igo/hns)










































