Misbakhun Buka Suara soal Pertamax Naik, Minta Pemerintah Jaga Daya Beli

Misbakhun Buka Suara soal Pertamax Naik, Minta Pemerintah Jaga Daya Beli

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 11 Jun 2026 21:49 WIB
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, bercerita pengalaman spiritualnya terkait puasa. (dok detikcom)
Foto: Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun.(dok detikcom)
Jakarta -

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyoroti kenaikan Pertamax jadi Rp 16.250/liter, dari sebelumnya Rp 12.300/liter. Harga baru ini telah berlaku sejak Rabu 10 Juni 2026.

Menurut Misbakhun langkah ini perlu dilihat secara utuh dalam hal tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.

"Sebagai wakil rakyat, saya memahami bahwa kenaikan harga BBM selalu menimbulkan beban bagi masyarakat. Karena itu, kebijakan ini harus dipahami bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang," kata Misbakhun dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misbakhun menjelaskan keputusan penyesuaian harga Pertamax tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal. Mulai dari kenaikan harga minyak dunia, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), hingga meningkatnya biaya penyediaan energi nasional.

Misbakhun mendorong komunikasi dengan pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan pemangku kepentingan terkait untuk terus dilakukan agar dampak kenaikan harga ini dapat diminimalkan.

"DPR tidak hanya melihat sisi fiskalnya, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat. Karena itu kami mendorong agar langkah penyesuaian ini diikuti kebijakan mitigasi yang terukur untuk menjaga daya beli dan mengendalikan inflasi," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Misbakhun menambahkan berbagai opsi stimulus dan insentif saat ini sedang dibahas untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.

Di sisi lain, Misbakhun menilai berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas ekonomi mulai memberikan sinyal positif terhadap pasar keuangan.

Salah satunya melalui keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% guna menjaga stabilitas Rupiah dan mengendalikan tekanan eksternal.

Menurutnya, pasar mulai merespons secara positif. Nilai tukar Rupiah yang sebelumnya mengalami tekanan mulai bergerak membaik, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat penguatan dalam beberapa hari perdagangan terakhir.

"Kita tentu belum bisa menyimpulkan situasi sepenuhnya pulih. Namun beberapa indikator mulai menunjukkan bahwa langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan berada pada jalur yang tepat," tutur Misbakhun.

(igo/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads