Terungkap Cara Pemerintah Tambal Biaya Subsidi BBM Saat Minyak Meroket

Terungkap Cara Pemerintah Tambal Biaya Subsidi BBM Saat Minyak Meroket

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 25 Jun 2026 14:40 WIB
Seorang petugas menunjukkan harga BBM jenis Pertalite yang sudah naik menjadi Rp10 ribu per liter di SPBU Maya jalur Pantura, Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (3/9/2022). Pemerintah menetapkan harga Pertalite dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per lit
Ilustrasi.Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Jakarta -

Pemerintah memutuskan tidak menaikkan BBM subsidi meski harga minyak mentah dunia meroket beberapa waktu lalu. Kondisi ini dinilai oleh sebagian pihak akan membebani keuangan negara.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan pemerintah telah memikirkan cara agar harga BBM subsidi tidak naik dan tidak membebani keuangan negara.

Salah satu caranya adalah mencari sumber pendapatan tambahan dari sektor mineral dan batu bara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya mau menyampaikan tentang bagaimana cari duit untuk menutupi penambahan subsidi. Orang kan selalu mengatakan bahwa ini nanti keuangan negara akan tergerus. Bagaimana caranya? Nah, ini saya membeberkan di sini," ujar Bahlil di acara INDEF, Jakrta Kamis (25/6/2026).

Menurut Bahlil rengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar US$ 70 per barel, pendapatan negara mencapai sekitar US$ 10,8 miliar. Namun apabila ICP naik menjadi US$ 100 per barel, pendapatan negara juga diperkirakan melonjak menjadi US$ 17,6 miliar.

ADVERTISEMENT

"Nah, pertanyaan berikut adalah, kenapa kita tidak menaikkan BBM subsidi? Dari mana uangnya? Bapak-Ibu semua, negara telah memutuskan atas saran Bapak Presiden, ICP-nya sampai dengan US$ 100 dolar, itu berarti kita menambah subsidi kurang lebih sekitar Rp 230 sampai 250 triliun. Dari mana uangnya? Yang pertama adalah ketika kita naikkan ICP-nya menjadi US$ 100 dolar, berarti ada pendapatan negara tambahan dari target APBN sekitar US$ 7 miliar dolar. Kalau US$ 7 miliar dolar kali Rp 17.500, itu berarti sekitar Rp 120 triliun sampai Rp 125 triliun," terang Bahlil.

"Nah, itu artinya apa? Dari 250 triliun, kita sudah dapat 50% dari peningkatan pendapatan lifting," sambungnya.

Kemudian, pemerintah juga mencari sumber pendapatan tambahan dari sektor mineral dan batu bara. Salah satunya melalui penyesuaian tarif royalti sejumlah komoditas tambang. Ia mengatakan langkah ini dapat menambah pendapatan negara sekitar Rp 30 sampai triliun.

"Kemudian saya putar otak lagi, bagaimana cara mendapatkan pendapatan tambahan? Kita naikkan beberapa royalti daripada tambang. Kita naikkan royalti mikel, kita naikkan royalti batubara dengan beberapa sektor lain, itu kita bisa dapat uang sekitar 30 sampai 35 triliun. Jadi artinya sekitar Rp 160 triliun rupiah dari total asumsi kenaikan daripada subsidi kita yang kurang lebih sekitar Rp 230 sampai Rp 250 itu sudah dapat dari sektor ESDM," ujarnya.

Dengan adanya penambahan penerimaan negara itu, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan efisiensi.

"Sisanya baru dilakukan efisiensi. Ini sebenarnya kuncinya. Jadi saya nggak setuju kalau dikatakan bahwa kenaikan menahan harga subsidi BBM itu adalah membebani uang negara," pungkasnya.

Simak juga Video: Harga Minyak Meroket, Bahlil Pastikan Belum Ada Kenaikan BBM Subsidi

(hrp/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads