Komut Pertamina Minta Direksi Turunkan Harga BBM Nonsubsidi

Komut Pertamina Minta Direksi Turunkan Harga BBM Nonsubsidi

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 26 Jun 2026 14:10 WIB
Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi. Harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik mulai hari ini, Rabu (10/6/2026).
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, mendorong seluruh jajaran direksi perusahaan untuk segera mempersiapkan langkah penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi secara bertahap mulai awal Juli 2026. Hal ini perlu dilakukan seiring tren penurunan harga minyak mentah (crude) dunia dalam beberapa waktu terakhir.

"Kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi, manajemen (Pertamina) untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak (mentah) dunia yang sudah mulai turun," kata Iriawan seperti dikutip dari laporan Antara, Jumat (26/6/2026).

Untuk diketahui, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang kerap jadi patokan berada di level US$ 71,53 per barel pada perdagangan pagi ini. Sementara, harga acuan perdagangan minyak mentah Brent hari ini berada di level US$ 74,83 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atas dasar inilah Iriawan mengatakan pihaknya akan melakukan diskusi lebih jauh dengan jajaran direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Di mana saat ini harga BBM ritel nonsubsidi untuk Pertamax (RON 92) sudah naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, harga Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

ADVERTISEMENT

Kemudian untuk harga Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp 20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp 23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp 24.800 per liter.

"Jadi kira-kira kami akan mendorong jajaran direksi untuk melakukan itu (penyesuaian harga BBM nonsubsidi). Yang pastinya nanti akan berkomunikasi dengan kemudian ESDM untuk bisa menurunkan harga minyak nanti," ujar Iriawan.

Namun, ia menggarisbawahi penyesuaian harga BBM harus melewati sejumlah prosedur dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sebab menurutnya formula evaluasi berkala yang diterapkan perseroan menjadi instrumen pelindung konsumen agar tidak terombang-ambing oleh volatilitas harga harian yang ekstrem.

"Ada prosedurnya ya, karena minyak yang sekarang ini proses (dari) bulan yang lalu, dengan harga yang lalu. Nah tentunya kalau turunnya kemarin, berapa hari yang lalu, kita akan menyesuaikan nanti," kata Iriawan.

"Turunnya berapa (rupiah), nanti kita lihat ke depan. Tapi insya Allah, doakan, mudah-mudahan bisa turun sesuai dengan harapan masyarakat," ujarnya menambahkan.

(fdl/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads