PT PLN (Persero) mulai modifikasi sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) agar dapat menggunakan batu bara berkalori rendah. Tujuannya, agar tidak terjadi kekurangan pasokan batu bara.
Pasalnya produksi batu bara dengan nilai kalori di atas 4.500 semakin menipis, sementara produksi batu bara berkalori rendah justru terus meningkat.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan modifikasi sudah dilakukan di PLTU Suralaya Unit 6-7. Dengan begitu, PLTU Suralaya yang tadinya menggunakan batu bara dengan kalori menengah ke atas, kini dapat mengonsumsi batu bara berkalori sekitar 4.100-4.300.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebijakan tersebut akanditerapkan di pembangkit lain milik PLN maupun pembangkit listrik milik swasta.
"Nah untuk itu kami melakukan pada adjustment pada pembangkit kami dengan tujuan jangan sampai berulang kembali (pemadam bergilir)," ujar Darmawan dalam rapat dengan Komisi XII DPR, Kamis (2/7/2026).
Selain memodifikasi pembangkit, PLN juga mengoptimalkan operasional pembangkit pada saat beban listrik rendah, pada pukul 00.00-06.00 yang kemudian disimpan menggunakan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas sekitar 4 GWh atau setara 500 MW untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik tanpa membangun pembangkit baru.
"Hanya menambah jam operasi pembangkit antara jam 12 malam sampai jam 6 pagi sehingga dalam hal ini meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di mana ada ruang pembangkit-pembangkit yang masih underutilized sehingga bisa dioptimalkan untuk ditangkap energinya," terang Darmawan
(hns/hns)










































