BBM Baru Diluncurkan, RI Tak Perlu Impor Solar-Hemat Devisa Rp 177 Triliun

BBM Baru Diluncurkan, RI Tak Perlu Impor Solar-Hemat Devisa Rp 177 Triliun

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 10 Jul 2026 12:00 WIB
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto
Foto: Ilyas Fadilah/detikcom
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global mulai dari konflik geopolitik hingga disrupsi teknologi.

Airlangga menyinggung perang di Ukraina yang masih berlangsung hingga gejolak di Selat Hormuz yang belum mereda. Di tengah tantangan tersebut, Airlangga menyebut Indonesia perlu memperkuat kedaulatan energi melalui program biodiesel B50.

"Ditambah lagi ketidakpastian dengan teknologi disruption seperti artificial intelligence (AI). Indonesia harus memperkuat fondasi ekonomi, terutama terkait dengan supply chain. Dan arahan Pak Presiden kita perkuat dalam setiap ketidakpastian itu yang terkait dengan kedaulatan pangan dan kedaulatan energi," kata Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Ekonomi, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Airlangga, implementasi B50 membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar. Kebijakan tersebut diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp 177 triliun.

ADVERTISEMENT

"Kemarin Bapak Presiden meluncurkan yang namanya B50, dan B50 itu menunjukkan bahwa Indonesia bisa punya kekuatan sendiri karena dengan B50, solar itu kita tidak impor lagi dan kita menghemat devisa Rp 177 triliun," terang Airlangga.

Selain mengurangi impor, program B50 juga mendukung target transisi energi. Airlangga menyebut kebijakan tersebut berkontribusi terhadap upaya mencapai net zero emission dengan menekan emisi sekitar 44 juta ton setara CO2.

Pada kesempatan itu, Airlangga menyebut pemerintah menargetkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt. Proyek tersebut diharapkan bisa selesai sebelum tahun 2029.

"Kemudian yang berikut juga Bapak Presiden mendorong mulainya program 100 gigawatt berbasis solar, di mana untuk hilirisasi daripada ekosistem baterai elektrik sudah siap. Bukan hanya untuk otomotif tetapi untuk baterai storage system juga. Dan itu investasinya di kawasan Kendal, di Jawa Tengah dan Jawa Timur," tutup Airlangga.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads