Pembangunan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar Raya, Bali resmi dimulai. Nantinya fasilitas ini dapat mengolah sekitar 14.000 ton sampah per hari menjadi listrik.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, mengatakan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) ini diharapkan mampu menjawab tantangan pengelolaan sampah sekaligus mendukung ketahanan lingkungan dan energi nasional, yang secara nasional diproyeksikan mampu menangani sekitar 22% persoalan sampah di Indonesia.
"Selama ini sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemprosesan akhir (TPA). Melalui pembangunan PSEL, kita tidak hanya mengurangi beban sampah yang menumpuk, tetapi juga mengubahnya menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi," kata Zulhas dalam keterangan resmi, Senin (13/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulhas menambahkan masa konstruksi PSEL Denpasar Raya berlangsung sekitar 18 bulan dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027. Fasilitas 'sulap' sampah jadi listrik ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan 1.400 ton sampah per hari.
Sehingga selain menjadi solusi pengelolaan sampah jangka panjang di Denpasar Raya, proyek ini juga diharapkan menjadi model pengembangan fasilitas waste to energy di berbagai daerah di Indonesia.
Di luar itu, pembangunan proyek PSEL Denpasar Raya ini turut didukung oleh PT SUCOFINDO (Persero). Dalam konteks ini perusahaan mengambil peran strategis melalui pelaksanaan Waste Analysis & Characterization (WAC) dan Land Investigation sebagai bagian dari tahapan persiapan proyek.
Kegiatan tersebut bertujuan memastikan kesiapan teknis proyek, khususnya terkait kuantitas, kualitas, dan karakteristik sampah yang akan digunakan sebagai bahan baku (feedstock) fasilitas PSEL.
Direktur Utama PT SUCOFINDO, Sandry Pasambuna, menjelaskan pada Program PSEL Batch 1, PT Danantara Investment Management (DIM) berkolaborasi dengan SUCOFINDO untuk melaksanakan WAC di sejumlah wilayah aglomerasi prioritas, termasuk Bali.
"Di Bali, kajian dilakukan di TPA Suwung yang melayani Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sebagai sumber utama timbulan sampah yang menjadi basis perencanaan proyek PSEL," terang Sandry.
"Melalui kegiatan WAC, SUCOFINDO melakukan pengukuran timbulan sampah harian, analisis komposisi sampah, serta pengujian karakteristik sampah yang meliputi nilai kalor, kadar air, dan kadar abu. Seluruh pengujian dilakukan menggunakan metodologi dan standar yang diakui secara nasional maupun internasional untuk menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan," jelasnya lagi.
Lebih lanjut, Sandry menyampaikan bahwa SUCOFINDO kembali dipercaya untuk melaksanakan Waste Analysis & Characterization pada Program PSEL Batch 2. Kepercayaan tersebut menunjukkan pentingnya data dan kajian teknis yang akurat dalam mendukung pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
"Melalui kompetensi yang kami miliki, SUCOFINDO terus menghadirkan layanan berbasis sains, teknologi, dan data guna memastikan kesiapan proyek-proyek strategis nasional. Kami meyakini bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berbasis data akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ekonomi sirkular serta mendukung target pembangunan berkelanjutan Indonesia," tambahnya.
(fdl/fdl)










































