Smelter Freeport di Gresik Mulai Operasi Lagi September

Smelter Freeport di Gresik Mulai Operasi Lagi September

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 14 Jul 2026 18:56 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan proyek Smelter Freeport di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated and Industrial Port Estate (KEK JIIPE), Gresik, Jawa Timur, Sabtu (25/5/2024). Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan mesin dan
Smelter PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur.Foto: Rizal Hanafi
Jakarta -

Smelter di Gresik, Jawa Timur dapat kembali beroperasi mulai September tahun ini. Smelter tersebut sebelumnya dijadwalkan beroperasi sejak 2024, namun sempat mengalami insiden kebakaran.

Smelter baru PT Freeport Indonesia di Gresik itu berkapasitas produksi konsentrat 1,7 juta dmt per tahun. Memproduksi katoda tembaga, emas, dan perak murni batangan.

"Rencana smelter baru ini akan mulai berproduksi kembali atau mengolah pemurnian konsentrat dari Papua itu pada September tahun ini, dan akan dilakukan ramp-up sampai dengan akhir tahun," ujar Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas dalam rapat kerja di Komisi XII DPR, Selasa (14/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tony menjelaskan sedianya smelter baru di Gresik mulai operasi terbatas sejak Juni 2024, dan per Agustus 2024 sudah memproduksi olahan konsentrat dari tambang di Papua. Sayangnya, di bulan Oktober terjadi kebakaran pada area smelter.

"Namun demikian, pada tahun 2024 di bulan Oktober terjadi kebakaran di area smelter, yaitu di salah satu unit kecil yaitu gas cleaning plant. Yang tapi itu walaupun unitnya kecil, tapi itu sangat vital karena di gas cleaning plant ini yang akan menangkap SO2 dari hasil furnace yang kemudian SO2 ini ditangkap supaya tidak tercemar ke udara dan diproses menjadi asam sulfat," jelas Tony.

ADVERTISEMENT

Perbaikan pun langsung dilakukan dan sudah siap melakukan produksi pada Mei 2025. Namun, masalah baru muncul. Pada September 2025 terjadi longsor pada salah satu areal tambang Freeport, Grassberg di Papua, yang mengakibatkan pasokan konsentrat menjadi terhenti pada smelter baru yang berada di Gresik.

Akhirnya, smelter baru di Gresik hanya memproduksi atau memurnikan sisa konsentrat yang ada di gudang hingga sekitar bulan Desember 2025. Sejak saat itu, smelter berhenti total beroperasi karena tak memiliki konsentrat untuk diolah.

"Tapi di satu sisi berhenti total itu menyebabkan kita mampu untuk melakukan pemeliharaan-pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan untuk memastikan bahwa pada saatnya nanti smelter baru tersebut kemudian bisa sudah mendapat asupan konsentrat lagi dari upstream, dari hulu di Papua, itu untuk memastikan bahwa semua proses sudah dicek semuanya dan bisa beroperasi kembali," papar Tony.

Dia melanjutkan operasional tambang di Papua berangsur-angsur membaik setelah insiden longsor dan ditargetkan per September tambang bisa memasok lagi konsentrat ke smelter di Gresik.

Sejauh ini tambang Freeport di Papua baru bisa beroperasi dengan kapasitas 60% sejak longsor terjadi. Pihaknya masih melakukan perbaikan-perbaikan agar semua betul-betul aman sebelum produksi ditingkatkan secara maksimal. Paling optimal setidaknya tahun ini tambang bisa memproduksi 65% konsentrat dari kapasitas yang ada.

"Semester satu tahun depan akan mencapai 75% dari kapasitas, dan menuju akhir tahun di 2027 itu akan menuju ke 100% kapasitas," beber Tony Wenas.

(hal/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads