85 Investor Asing Berebut Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik di RI

85 Investor Asing Berebut Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik di RI

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 16 Jul 2026 15:58 WIB
Rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kabupaten Bekasi diperkirakan mengalami keterlambatan dari jadwal semula. Proyek yang direncanakan berdiri di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kecamatan
Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto
Jakarta -

Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) yang saat ini sedang didorong pemerintah ramai diminati oleh investor asing.

Hal ini terlihat dari banyaknya investor yang ikut dalam lelang proyek. Di mana untuk fase pertama terdapat 24 perusahaan yang mengikuti proses bidding setelah diseleksi dari ratusan peminat. Sementara pada fase kedua, jumlah peserta lelang meningkat menjadi 85 perusahaan.

"Ini ada 85 (perusahaan). Ada yang dari Eropa, ada yang dari China juga ada, dari Jepang, Korea, Singapur, Timur Tengah, jadi jauh lebih diversified," kata Pandu dalam acara Waste to Energy Talks, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya kondisi ini menunjukkan bagaimana proyek 'sulap' sampah jadi listrik ini memiliki nilai ekonomi tersendiri yang diminati banyak investor. Bahkan saat Danantara memberikan banyak syarat untuk bisa terlihat dalam proyek ini, para investor asing masih sangat berminat.

"Rupanya private sector sangat tertarik walaupun kita di situ sudah taruh peraturan Anda harus bawa financing-nya, kedua Anda harus make sure punya track record dengan teknologi," paparnya.

ADVERTISEMENT

Di luar itu, ia memastikan proses seleksi perusahaan yang bisa menjadi mitra untuk proyek ubah sampah jadi listrik ini diseleksi secara ketat. Terutama dalam hal asal negara perusahaan terkait.

"So far prosesnya sangat ketat, Alhamdulillah semua mencoba melobi, Alhamdulliah kita seobjektif mungkin dan kita juga make sure ini bukan satu dua perusahaan saja yang menang," jelas Pandu.

"Karena kalau full objectivity, satu pemain menang bisa 3-4 tempat. Tapi kita harus balance, dan nggak bisa dari satu negara. Kalau enggak nanti juga counterparty risk buat kita. Kalau ada apa-apa kita dengan negara itu. Jadi kita make sure yang ini dari beberapa negara beda," ujarnya lagi.

Tak hanya perusahaan asing, sejumlah perusahaan lokal juga menjadi mitra untuk proyek PSEL tahap dua ini. Di mana terdapat delapan perusahaan terpilih dalam proses seleksi mitra pengembang dan pengelola PSEL yang telah diumumkan oleh Danantara.

"Perusahaan lokal juga memiliki track record yang cukup pas, enggak bisa terlalu kecil nanti bisa menimbulkan risk kepada daerah-daerah yang ada. Kita perlu sudah ada track record juga dari perusahan nasional tersebut, paling tidak dalam urusan energi, dalam urusan di local area tersebut," jelas dia.

Dalam paparannya, mitra terpilih untuk proyek PSEL tahap kedua diantaranya:

1. SUEZ-IAN Consortium (SUEZ Insan Asia) untuk proyek di Medan Raya

2. Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni) untuk proyek di Kabupaten Bekasi

3. Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas) untuk proyek di Lampung Raya

4. Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE) untuk proyek di Serang Raya

5. Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd (Veolia) untuk proyek di Semarang Raya

6. Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS) untuk proyek di Surabaya Raya

7. MPM-CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA) untuk proyek di Bogor Raya 2

8. Cakra Energi Lestari Consortium (Pertamina NRE Tianjin CITICC) untuk proyek di Yogyakarta Raya.

Dalam hal ini, empat dari delapan perusahaan mitra yang sudah terpilih di atas merupakan konsorsium yang dipimpin oleh entitas asal Indonesia. Sedangkan dua konsorsium dipimpin oleh perusahaan asal Perancis, dan dua konsorsium dipimpin perusahaan asal China.

"Ada yang dari dalam negeri, ada yang dari luar negeri. Baik dari Prancis, Tiongkok, ada juga yang dari Indonesia. Kita nggak bisa juga tergantung pada satu tempat Kita harus diversifikasi," tegasnya.

Lihat juga Video 'Apa Benar Investor Patriot Bond Danantara Kebal Tuntutan Hukum?:

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads