Selat Hormuz Memanas, Irak-Suriah Aktifkan Pipa Minyak Lama

Selat Hormuz Memanas, Irak-Suriah Aktifkan Pipa Minyak Lama

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 19 Jul 2026 21:30 WIB
Vessels at the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, June 18, 2026. REUTERS/Stringer
Foto: REUTERS/Stringer
Jakarta -

Irak dan Suriah sepakat untuk mengaktifkan kembali jalur pipa minyak yang menghubungkan kedua negara. Langkah ini diambil sebagai alternatif jalur logistik Selat Hormuz yang kembali berkecamuk usai Iran dan AS kembali saling serang.

Kedua negara menandatangani kesepakatan pada hari Jumat lalu dalam sebuah pertemuan puncak Kamar Dagang di Washington yang membahas investasi AS di Irak. Menteri Energi AS Chris Wright memimpin proses penandatanganan yang dilakukan oleh CEO Basra Oil Company, Bassem Abdul Karim Nasr, dan CEO Syrian Petroleum Company, Youssef Qablawi.

"Ada banyak peluang untuk mendorong perbaikan di Irak, meningkatkan produksi minyak, mengurangi ketergantungan pada negara-negara tetangga yang bermusuhan, serta menghadirkan kebebasan, kemakmuran, dan energi yang melimpah bagi bangsa Irak," ujar Wright dilansir dari CNBC, Minggu (19/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejauh ini, menurut Badan Informasi Energi AS (Energy Information Agency/EIA), jalur pipa Irak dan Suriah membentang dari wilayah Kirkuk di Irak utara hingga pesisir Mediterania di Suriah dengan kapasitas terpasang sebesar 700 ribu barel per hari. Jalur ini telah ditutup sejak mengalami kerusakan akibat invasi AS ke Irak pada tahun 2003.

ADVERTISEMENT

Irak sendiri merupakan negara produsen minyak terbesar kedua di OPEC. Negara itu sangat terdampak oleh gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz selama konflik AS-Iran. Baghdad sangat bergantung pada kota pelabuhan Basra di Teluk Persia karena terbatasnya pilihan jalur pipa untuk menyalurkan minyaknya ke pasar global.

Menurut data OPEC, produksi minyak Irak turun lebih dari 50% menjadi sekitar 1,9 juta barel per hari pada bulan Juni, dibandingkan dengan sekitar 4,2 juta barel per hari pada bulan Februari sebelum AS dan Israel menyerang Iran.

Sejak konflik AS dan Iran berkecamuk, beberapa negara Teluk langsung berencana memperluas kapasitas jalur pipa guna mengurangi ketergantungan mereka pada Selat Hormuz. Uni Emirat Arab sedang membangun jalur pipa kedua menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman, yang akan melipatgandakan kapasitas ekspornya di luar selat tersebut.

Sementara itu, Arab Saudi sedang mempertimbangkan untuk memperluas jalur pipanya menuju Laut Merah dengan kapasitas tambahan sebesar 2 juta barel per hari. Kini Irak dan Suriah menyusul.

Para analis menilai jalur pipa dapat berfungsi sebagai langkah mitigasi terhadap risiko geopolitik di Selat Hormuz, namun hal tersebut tidak menyelesaikan ancaman mendasar yang ditimbulkan oleh Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan itu.

"Masalahnya bukan pada jalur air tersebut. Masalahnya adalah Iran dapat menggunakan senjata untuk menyerang fasilitas pemuatan, stasiun pemompaan, stasiun akhir, terminal-terminal tersebut, serta unit penyimpanan dari jaringan pipa ini," ujar Bob McNally, pendiri Rapidan Energy.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads