Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz-Laut Merah Bikin Harga Minyak Bergejolak

Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz-Laut Merah Bikin Harga Minyak Bergejolak

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 25 Jul 2026 14:00 WIB
A drone view shows vessels in the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, June 15, 2026. (File photo: Reuters)
Ilustrasi/Foto: dok. Reuters
Jakarta -

Jalur perdagangan energi dunia sedang porak-poranda imbas memanasnya konflik di Timur Tengah. Kapal-kapal tanker minyak kerap menjadi sasaran di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb di Laut Merah, membuat harga energi global semakin bergejolak.

Serangan terhadap kapal-kapal tanker ini memiliki tujuan yang jelas, gangguan dalam perang ekonomi untuk membatasi ruang gerak dan sumber daya lawan. Sebagai contoh ada Iran yang meningkatkan serangannya terhadap kapal tanker di dalam dan sekitar Selat Hormuz sepanjang bulan ini untuk mengambil alih kendali atas jalur yang sangat penting tersebut.

Sementara sekutunya Houthi di Yaman menembaki dua kapal tanker Saudi di Laut Merah setelah menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatatkan 61 kapal dagang telah diserang di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman sejak 1 Maret, mengakibatkan kematian 17 pelaut dan puluhan lainnya terluka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iran dan Houthi bersama-sama kini memberikan pukulan yang sangat signifikan terhadap kepentingan nasional Amerika, perusahaan minyak Amerika, dan tentu saja Arab Saudi. Namun mereka tidak berhasil sepenuhnya menekan ekspor," kata Dimitris Maniatis, CEO dari layanan risiko maritim Marisks dikutip dari CNBC, Sabtu (25/7/2026).

ADVERTISEMENT

Masih belum cukup, konflik antara Rusia dengan Ukraina juga membuat peta dagang energi dunia semakin kacau. Ukraina mengaku telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan kapal lainnya yang terkait dengan armada bayangan Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam.

"Pasar minyak saat ini sedang menghadapi perang di berbagai lini," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global.

Alhasil, harga minyak mentah Brent yang kerap menjadi patokan global sempat naik ke level US$ 100 per barel di perdagangan Kamis (23/7) kemarin. Menunjukkan kerentanan rantai pasok energi dunia di tengah konflik bersenjata di berbagai wilayah.

"Rusia kini telah memberlakukan larangan ekspor produk dan kilang-kilang mereka telah terpukul sangat parah oleh Ukraina. Rusia adalah salah satu pengekspor produk terbesar, salah satu pengekspor diesel terbesar. Hal ini benar-benar memperketat pasar produk serta pasar minyak mentah," kata Croft.

(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads