Siapa Paling Untung dari Proyek Blok Masela? ESDM Bilang Begini

Siapa Paling Untung dari Proyek Blok Masela? ESDM Bilang Begini

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 29 Jul 2026 12:02 WIB
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia/Foto: Heri Purnomo/detikcom
Jakarta -

Proyek LNG Abadi Blok Masela akhirnya dibangun setelah mandek bertahun-tahun. Presiden Prabowo Subianto sendiri yang meresmikan groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek tersebut.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia buka-bukaan soal siapa yang paling diuntungkan dari proyek berskala besar tersebut. Menurutnya, sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) dinilai tidak cukup hanya diukur dari angka investasinya, melainkan dari sejauh mana dampaknya menghadirkan kesejahteraan nyata di daerah operasional.

Kehadiran proyek LNG Abadi Blok Masela yang berada di lepas pantai dirancang tidak hanya untuk memperkuat pasokan energi dalam negeri, tetapi juga memastikan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keberhasilan PSN sesungguhnya tidak hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal," kata Dwi Anggia melalui keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Rabu (29/7/2026).

ADVERTISEMENT

Proyek LNG Abadi Blok Masela resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 16 Juli 2026 yang lalu dengan mencatatkan nilai investasi fantastis mencapai US$ 20,9 miliar atau sekitar Rp 340 triliun. Fasilitas ini diproyeksikan bakal menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas pipa per hari, serta 35.000 barel kondensat per hari.

Untuk memastikan kekayaan alam tersebut kembali kepada rakyat, pemerintah menetapkan aturan tegas bahwa minimal 60% dari total produksi LNG Abadi Blok Masela wajib dialokasikan untuk kebutuhan domestik. Pasokan ini ditujukan untuk menyokong industri vital nasional, mulai dari pabrik pupuk hingga pembangkit listrik.

Menariknya, LNG Abadi Blok Masela juga mencatatkan sejarah baru dalam komitmen transisi energi bersih di tanah air. Proyek ini menjadi salah satu pionir yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) secara bersamaan dalam fase produksinya untuk menekan emisi karbon.

"Artinya, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tapi menjadi wujud komitmen Indonesia menuju transisi energi bersih dan berkelanjutan," tutur Dwi Anggia.

Dari sisi dampak ekonomi daerah, proyek ini diproyeksikan akan menyerap hingga 12.000 lapangan pekerjaan. Pemerintah juga telah menyiapkan program pendidikan serta pelatihan vokasi khusus bagi putra-putri Kepulauan Tanimbar agar siap menjadi pemain utama di tanah kelahirannya sendiri.

"LNG Abadi Blok Masela adalah bukti bahwa pembangunan Indonesia tidak hanya berpusat di satu wilayah. Dari Kepulauan Tanimbar, kita sedang membangun fondasi baru bagi ketahanan energi nasional," tegas Dwi Anggia.

(hal/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads