Menara Transmisi Roboh Kena Banjir, Perbaikan PLTA Batang Toru Dikebut

Menara Transmisi Roboh Kena Banjir, Perbaikan PLTA Batang Toru Dikebut

Heri Purnomo - detikFinance
Jumat, 31 Jul 2026 12:31 WIB
Wamen ESDM Yuliot Tanjung memberikan pernyataan kepada awak media di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026).
Foto: Heri Purnomo
Jakarta -

Pengoperasian PLTA Batang Toru yang berkapasitas 510 megawatt agar segera terhubung dengan jaringan Sumatera. Hal ini dilakukan untuk memperkuat keandalan pasokan listrik di Sumatera.

Pada November 2025, lima menara transmisi PLTA Batang Toru roboh akibat bencana banjir, sehingga menyisakan beberapa masalah pasokan listrik bagi sistem kelistrikan Sumatera.

Wakil Menteri ESDM Yuliot baru saja melakukan kunjungan langsung pada lokasi proyek tersebut untuk mengawal proses pemulihan PLTA Batang Toru. Beberapa menara transmisi yang rusak masih berada pada tahap perancangan dan struktur pondasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera. Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional," ujar Yuliot dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Jumat (31/7/2026).

ADVERTISEMENT

"Khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatera cukup kritis sehingga kita memerlukan antisipasi. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kita sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid," bebernya melanjutkan.

Selain kendala transmisi, proyek senilai Rp 21,6 triliun ini juga sempat terhambat perizinan dan administrasi. Kepastian kelanjutan diperoleh setelah Menteri Lingkungan Hidup mencabut sanksi administratif melalui Keputusan Nomor 1444 Tahun 2026 pada 16 Maret 2026, disusul persetujuan untuk melanjutkan konstruksi. Saat ini, proses administrasi berjalan paralel dengan uji teknis pembangkit yang memerlukan genangan air.

"Testing yang dilakukan ini namanya PLTA kan harus ada genangan. Kalau tidak ada genangan, testing tidak bisa kita lakukan. Berarti antara penyelesaian administratif dan juga pelaksanaan testing itu kita lakukan secara paralel," jelas Yuliot.

Pengoperasian pembangkit juga diharapkan mendukung target bauran Energi Baru Terbarukan nasional yang saat ini berada pada kisaran 16 hingga 17% dan ditargetkan mencapai 21% pada akhir 2026.

"Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21% tidak akan tercapai hingga akhir tahun," ujar Yuliot.

PLTA Batang Toru berada di area seluas 650 hektare di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Proyek berkapasitas 510 megawatt ini dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy dengan Sinohydro Corporation Limited sebagai kontraktor. Pembangunannya dimulai pada 1 September 2017 dengan investasi Rp 21,6 triliun yang bersumber dari penanaman modal asing.

(hrp/hal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads