Kuba Gelap Gulita Lagi, Krisis Listrik Makin Parah

Kuba Gelap Gulita Lagi, Krisis Listrik Makin Parah

Heri Purnomo - detikFinance
Selasa, 04 Agu 2026 16:09 WIB
A man walks down a dark street as Cubas electricity grid collapsed late on Sunday, plunging the island of about 10 million people into darkness as blackouts become more frequent, in Havana, Cuba August 3, 2026. REUTERS/Norlys Perez
Foto: REUTERS/Norlys Perez
Jakarta -

Jaringan listrik Kuba kembali padam pada Senin (3/8/2026), saat pemerintah masih berupaya memulihkan pasokan listrik setelah pemadaman berskala nasional yang terjadi pada Minggu malam.

Dikutip dari Reuters, pemadaman listrik untuk kedua kalinya dalam kurun kurang dari satu hari menunjukkan rapuhnya infrastruktur kelistrikan Kuba. Negara itu tengah menghadapi krisis bahan bakar akibat sanksi Amerika Serikat (AS), pembangkit listrik yang telah menua, serta minimnya investasi selama bertahun-tahun.

Kondisi tersebut membuat jutaan warga Kuba semakin sering mengalami pemadaman listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan listrik nasional Kuba, UNE, menjelaskan cuaca buruk mengganggu jaringan transmisi saat proses pemulihan sistem berlangsung. Gangguan itu berdampak langsung terhadap sejumlah unit pembangkit yang sebelumnya telah kembali beroperasi.

"Dalam proses pemulihan SEN, kondisi cuaca yang terjadi menyebabkan gangguan pada jaringan listrik, yang secara langsung memengaruhi unit-unit pembangkit yang telah beroperasi," kata UNE dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, pemerintah melaporkan proses pemulihan mulai menunjukkan kemajuan pada Senin malam. Empat unit pembangkit di Energas Jaruco telah kembali beroperasi, sementara sejumlah gardu induk transmisi di sekitar Havana kembali dialiri listrik.

Pemadaman terbaru ini terjadi setelah tiga kali kegagalan jaringan listrik nasional dalam kurun sembilan hari sepanjang Juli. Setelah itu, sistem kembali mengalami pemadaman pada Minggu malam sesaat sebelum pukul 23.00 waktu setempat.

Pemadaman listrik yang berulang telah mengganggu aktivitas rumah tangga, dunia usaha, hingga layanan publik di negara Karibia yang berpenduduk sekitar 10 juta jiwa tersebut. Kondisi ini semakin menambah tekanan terhadap pemerintah yang juga tengah menghadapi kelangkaan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan, di tengah perlambatan ekonomi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Krisis listrik ini juga memiliki dimensi diplomatik. Pemerintah Kuba menyalahkan sanksi dan pembatasan perdagangan Amerika Serikat selama puluhan tahun karena dinilai membatasi akses terhadap bahan bakar, pembiayaan, dan suku cadang yang dibutuhkan untuk memelihara sistem kelistrikan.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat berpendapat pemadaman tersebut mencerminkan kegagalan model ekonomi yang dikelola negara.

Lihat juga Video: Kota Rosh Haayin di Israel Gelap Gulita Setelah Serangan Iran

(hrp/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads