Smelter Freeport di Gresik Kembali Operasi Bertahap Mulai September 2026

Smelter Freeport di Gresik Kembali Operasi Bertahap Mulai September 2026

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 07 Agu 2026 17:16 WIB
Konsentrat dari underground mining Freeport mengandung tembaga, emas, dan perak. Begini bentuknya.
Foto: Hans Henricus BS Aron
Jakarta -

Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur direncanakan kembali beroperasi secara bertahap mulai September 2026.

Diketahui, operasional smelter Freeport di Gresik terhenti pada Desember 2025 lalu hingga saat ini karena kekosongan pasokan konsentrat imbas insiden longsor lumpur bijih basah terjadi di area tambang bawah tanah kawasan Grasberg Block Cave (GBC), Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

"Smelter nanti mulai bulan September sudah mulai akan produksi lagi," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas saat ditemui wartawan di Djakarta Theater, Jakarta Pusat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan saat ini Smelter Manyar di Gresik sudah mulai menerima pasokan konsentrat tembaga dari fasilitas tambang perusahaan di Papua. Namun untuk saat ini smelter masih berfokus untuk 'menumpuk' pasokan konsentrat lebih dulu

"Sementara ini konsentrat sudah mulai masuk, dari Papua sudah mulai masuk ke Manyar. Jadi mungkin satu set, kan supaya volumenya cukup dulu baru kita bakar," jelas Tony.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, menurutnya smelter ini tidak akan langsung beroperasi penuh atau 100% kapasitas pada September nanti. Namun operasional akan dimulai dari di bawah 50% dan kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga akhir 2027 nanti.

"Menuju 100% di tahun 2027 akhir," tegas Tony.

Sebelumnya Tony sempat menjelaskan smelter baru Freeport di Gresik mulai operasi terbatas sejak Juni 2024, dan per Agustus 2024 sudah memproduksi olahan konsentrat dari tambang di Papua. Sayangnya, di bulan Oktober terjadi kebakaran pada area smelter.

"Namun demikian, pada tahun 2024 di bulan Oktober terjadi kebakaran di area smelter, yaitu di salah satu unit kecil yaitu gas cleaning plant. Yang tapi itu walaupun unitnya kecil, tapi itu sangat vital karena di gas cleaning plant ini yang akan menangkap SO2 dari hasil furnace yang kemudian SO2 ini ditangkap supaya tidak tercemar ke udara dan diproses menjadi asam sulfat," jelas Tony dalam rapat kerja di Komisi XII DPR, Selasa (14/7/2026) lalu.

Perbaikan pun langsung dilakukan dan sudah siap melakukan produksi pada Mei 2025. Namun, masalah baru muncul. Pada September 2025 terjadi longsor pada salah satu areal tambang Freeport, Grassberg di Papua, yang mengakibatkan pasokan konsentrat menjadi terhenti pada smelter baru yang berada di Gresik.

Akhirnya, smelter baru di Gresik hanya memproduksi atau memurnikan sisa konsentrat yang ada di gudang hingga sekitar bulan Desember 2025. Sejak saat itu, smelter berhenti total beroperasi karena tak memiliki konsentrat untuk diolah.

"Tapi di satu sisi berhenti total itu menyebabkan kita mampu untuk melakukan pemeliharaan-pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan untuk memastikan bahwa pada saatnya nanti smelter baru tersebut kemudian bisa sudah mendapat asupan konsentrat lagi dari upstream, dari hulu di Papua, itu untuk memastikan bahwa semua proses sudah dicek semuanya dan bisa beroperasi kembali," papar Tony.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads