Harga Minyak Dunia Jatuh 2% Lebih, Ini Penyebabnya

Harga Minyak Dunia Jatuh 2% Lebih, Ini Penyebabnya

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 14 Agu 2026 08:34 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Harga minyak dunia turun lebih dari 2% pada penutupan perdagangan Kamis (13/8) kemarin usai mengalami penguatan selama sepekan terakhir. Pelemahan ini didorong oleh perkiraan akan terjadinya penurunan permintaan global dan peningkatan tajam persediaan minyak mentah AS.

Melansir Reuters, Jumat (14/8/2026), harga kontrak berjangka Brent yang menjadi patokan global ditutup melemah US$ 1,91 per barel atau 2,15%, menjadi US$ 87,07 per barel pada akhir perdagangan kemarin. Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup turun US$ 2,02 per barel atau 2,4%, menjadi US$ 81,25 per barel.

Angka pada penutupan perdagangan ini masih lebih baik mengingat bagaimana Brent dan minyak mentah AS sempat jatuh hingga lebih dari 3,5% pada awal sesi menyusul laporan bahwa Houthi Yaman telah menargetkan kilang Saudi Aramco di Jazan, Arab Saudi, dengan drone.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Di luar itu, belakangan ini para investor juga sedang mencermati data-data terkait dengan cadangan minyak global serta perkiraan konsumsi ke depan.

ADVERTISEMENT

Dalam hal ini, menurut laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu (12/8) lalu, persediaan minyak mentah komersial AS mengalami kenaikan secara mingguan terbesar sejak Januari 2023 seiring dengan penurunan ekspor.

"Persediaan minyak mentah naik sebesar 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus, tertinggi sejak 5 Juni," kata EIA.

Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2026 menjadi 580.000 barel per hari dalam laporan pasar minyak bulanannya.

Senada, Badan Energi Internasional juga memperkirakan akan adanya penurunan konsumsi sebesar 1,6 juta barel per hari tahun ini, dibandingkan dengan penurunan 1 juta barel per hari yang diperkirakan bulan lalu karena permintaan yang dibatasi oleh harga yang lebih tinggi dan pasokan yang terbatas karena perang AS-Israel dengan Iran.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads