Smelter kedua PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Khusus Ekonomi (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur, telah siap beroperasi kembali. Fasilitas tersebut akan beroperasi bersama smelter pertama mereka yang dioperatori PT Smelting.
Sebelumnya, Smelter PT Smelting mengalami gangguan dan berhenti beroperasi sejak 8 Agustus 2026. Sebagai informasi, PTFI menggenggam 66% saham di PT Smelting, sementara 34% lainnya oleh Mitsubishi Materials Corporation.
Kemudian, smelter kedua berhenti beroperasi sejak kuartal IV 2025 karena kekosongan pasokan konsentrat imbas insiden longsor di tambang bawah tanah kawasan Grasberg Block Cave (GBC), Tembagapura. Secara total fasilitas produksi PTFI di Gresik mencapai 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini smelter PTFI di Gresik telah siap untuk beroperasi kembali dan bersama smelter PT Smelting yang juga kita miliki akan memiliki kapasitas pemurnian 3 juta ton konsentrat tembaga setiap tahun," kata Presiden Direktur PTFI Tony Wenas di kawasan Sporthall Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (17/8/2026).
Tony mengatakan kapasitas tersebut menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral tembaga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia. Pengoperasian kedua smelter tersebut menjadi bagian dari komitmen PTFI untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
"Pencapaian ini menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral tembaga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia. Dan ini juga menegaskan komitmen nyata PTFI dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri untuk pertumbuhan industri nasional," terang Tony.
Pada kesempatan itu, Tony menjelaskan tahun ini PTFI diproyeksikan baru mampu berproduksi sekitar 65% dari kapasitas. Meski demikian, sumbangan yang diberikan Freeport ke Negara diperkirakan tembus Rp 47 triliun.
"Kalau sudah 100% kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari Rp 100 triliun, mungkin Rp 120 triliun setiap tahunnya. Jadi itulah kontribusi Freeport kepada negara," kata Tony di Sporthall Tembagapura, Senin (17/8/2026).
Tony menambahkan, produksi kemudian ditargetkan meningkat menjadi 75% pada semester I 2027 dan mencapai 100% pada semester II 2027. Dengan peningkatan produksi tersebut, kontribusi kepada negara juga diproyeksikan meningkat menjadi Rp 120 triliun per tahun.
(ily/hns)









































