Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan sejumlah negara yang sebelumnya gencar mendorong peralihan dari energi fosil ke energi bersih, justru kini membeli batu bara dalam jumlah besar dari Indonesia.
Bahlil mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya standar ganda dalam pelaksanaan komitmen global terkait perubahan iklim.
"Contoh, beberapa negara yang melakukan inisiasi untuk segera beralih dari fosil ke energi baru terbarukan, sekarang ini mereka memesan batu bara yang cukup besar di Indonesia. Jadi kita kadang-kadang, inkonsistensi kesepakatan global yang orang Papua bilang, tulis lain, baca lain, bikin lain," ujar Bahlil dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun menyinggung Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya menjadi salah satu inisiator Paris Agreement atau Perjanjian Iklim Paris. Namun, AS kini sudah keluar dari perjanjian tersebut.
Meski begitu, Bahlil menegaskan, Indonesia tetap berkomitmen menjalankan Paris Agreement dengan mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dan mencapai target net zero emission (NZE).
"Indonesia akan tetap konsisten untuk menjalankan apa yang menjadi kesepakatan terkait dengan Paris Agreement. Kita akan mendorong net zero emission kita pada 2050 sampai dengan 2060," terang Bahlil.
Selain itu, Bahlil menyampaikan, langkah mendorong penggunaan energi bersih yang dilakukan pemerintah ini sebagai juga menjadi upaya untuk mewariskan lingkungan dan bumi yang lebih baik kepada generasi mendatang.
"Di bawah kepimpinan Presiden Prabowo, itu sudah memutuskan bahwa perubahan atau mengonversi dari energi fosil kepada energi bersih, bukan hanya pada menuju net zero emission, tetapi bagaimana kita meninggalkan warisan bumi kepada anak cucu kita yang lebih baik," katanya.
(hrp/fdl)









































