Pertamina Ungkap Dampak B50 & Bioetanol: Ciptakan 2,1 Juta Lapangan Kerja

Pertamina Ungkap Dampak B50 & Bioetanol: Ciptakan 2,1 Juta Lapangan Kerja

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2026 20:23 WIB
Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono (tengah), Perwira Subholding Downstream Yoga Pratama, serta Sustainable Energy Expert sekaligus Founder Komodo Water, Shana Fatina hadir sebagai pembicara dalam Perta
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Program energi terbarukan yang digagas PT Pertamina (Persero) tidak hanya berfokus pada penurunan emisi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan melalui implementasi biosolar B50 dan perluasan bioetanol berbasis tebu, Pertamina mencatat potensi penyerapan tenaga kerja hingga 2,1 juta orang di seluruh Indonesia.

Bersama dengan itu, langkah efisiensi dan kemandirian energi ini juga dapat memutus rantai ketergantungan terhadap pasokan energi impor secara berkelanjutan. Bahkan berkat penerapan B50 ini, Pertamina bisa menghemat devisa negara untuk impor solar hingga Rp 170 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi B50 tadi hitungan kita menambah lapangan kerja sekitar 2,1 juta. Kemudian tadi penghematan karena kita tidak lagi impor itu Rp 170 triliun, dan emisi karbonnya yang bisa ditekan itu sekitar 44 juta ton CO2 dengan program B50 ini," tutur Agung

Terkait penciptaan lapangan kerja, Pertamina bekerja sama dengan BUMN sektor perkebunan seperti PTPN dan jaringan petani lokal untuk mengolah hasil kebun tebu menjadi etanol dan hasil minyak sawit menjadi fame untuk campuran bahan bakar secara terintegrasi.

ADVERTISEMENT

Model kolaborasi bisnis ini memastikan hasil panen petani lokal terserap langsung oleh rantai pasok energi nasional, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup para petani secara signifikan.

Pertamina berharap ekosistem pemberdayaan petani tebu dan sawit ini dapat direplikasi secara masif di berbagai daerah lain di Indonesia guna mendorong pemerataan ekonomi berbasis kemandirian daerah.

"Dengan program bioetanol pemerintah ini, kita akan bisa memberi kehidupan juga bagi para petani tebu. Energi terbarukan ramah lingkungan ini sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar," ungkap Agung.

"Karena tidak banyak negara diberkahi dengan alam yang subur sehingga tanaman produksi contohnya adalah sawit bisa tumbuh dengan subur dan bisa membangun ekonomi kita. Jadi ini yang membuat B50 untuk solar sekali lagi juga bisa menekan emisi dan mengurangi uang yang keluar untuk impor, menghemat devisa," jelas Agung.

(igo/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads