Wamen ESDM Sebut Anggaran Subsidi Energi Terancam Bengkak Rp 300 T

Wamen ESDM Sebut Anggaran Subsidi Energi Terancam Bengkak Rp 300 T

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2026 12:30 WIB
ESDM
Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, mengatakan konflik di berbagai belahan dunia seperti perang Amerika Serikat dengan Iran di kawasan Timur Tengah dan serta perang Rusia Vs Ukraina telah mengganggu rantai pasok energi global.

Menurutnya kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi energi nasional yang secara langsung berdampak terhadap APBN dari sisi anggaran subsidi dan kompensasi. Baik untuk subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM), LPG, hingga listrik.

"Kalau bagi Indonesia sendiri, dengan meningkatnya harga energi ini dampaknya itu adalah terhadap pembiayaan melalui alokasi untuk subsidi dan juga ini ada kompensasi yang disiapkan oleh negara. Itu baik terhadap BBM, ya kemudian listrik, LPG," ujar Yuliot dalam acara EBTKE ConEx ke-12, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya jika lonjakan harga energi dunia ini tidak segera diantisipasi dengan beralih ke sumber energi lain, termasuk energi baru dan terbarukan (EBT), pemerintah diperkirakan harus mengeluarkan anggaran tambahan sekitar Rp 300 triliun untuk biaya subsidi dan kompensasi tadi.

Padahal dalam APBN 2026 saja, anggaran belanja untuk subsidi dan kompensasi energi sepanjang tahun ini sebesar Rp 381,3 triliun atau hampir Rp 400 triliun. Di mana realisasi pembayaran untuk subsidi dan kompensasi hingga semester I-2026 sudah mencapai Rp 233 triliun.

ADVERTISEMENT

"Kalau tidak kita antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, konsekuensinya ada peningkatan kompensasi dan subsidi dari Rp 400 triliun, itu bisa meningkat sekitar Rp 300 triliun," ujarnya.

"Kalau ini ada peningkatan sekitar Rp 300 triliun itu dampaknya itu juga ini ada defisit pembiayaan yang dibiayai dari APBN, khususnya pada tahun 2026 ini," sambung Yuliot.

Atas dasar inilah pemerintah terus berupaya mencapai swasembada energi melalui peningkatan bauran energi baru terbarukan. Mulai dari menggenjot sektor bahan bakar nabati hingga pembangunan pembangkit listrik 100 gigawatt (GW) dari sumber energi bersih seperti surya sampai panas bumi.

Simak juga Video Bahlil Usul Anggaran Rp 815 M buat Program Kompor Listrik

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads