PLTP Gunung Salak Mulai Kembangkan Aset Karbon

PLTP Gunung Salak Mulai Kembangkan Aset Karbon

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 07 Sep 2026 11:37 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Gunung Salak yang berkapasitas 3x60 MW mampu menopang kebutuhan listrik se-Jawa-Bali. Yuk kita lihat PLTP yang terletak di Bogor tersebut.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

PLN Indonesia Power (PLN IP) mengembangkan aset karbon dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak. Potensi pengurangan emisi dari peningkatan kapasitas pembangkit tersebut akan dikembangkan menjadi aset karbon yang memiliki nilai ekonomi.

Pengembangan aset karbon itu dilakukan melalui penandatanganan Second Amendment to Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek Capacity Upgrade of Gunung Salak Geothermal Power Plant Project Indonesia.

Kerja sama tersebut melanjutkan kolaborasi PLN IP dengan South Pole AG dalam pengembangan aset karbon dari peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak. Aset karbon yang berasal dari pengurangan emisi tersebut selanjutnya dapat dimonetisasi dan diperdagangkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan pengembangan aset karbon dapat menjadi sumber nilai ekonomi tambahan dari pembangkit energi bersih.

"Pengembangan energi baru terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana setiap potensi pengurangan emisi dapat dikelola menjadi nilai tambah yang berkelanjutan. Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia," tegas Bernadus dalam keterangan resmi, ditulis Senin (7/9/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, pengembangan aset karbon merupakan salah satu skema yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari pembangkit energi terbarukan.

"Geothermal memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih yang andal. Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kinerja aset pembangkit, tetapi juga membuka peluang nilai tambah dari aspek lingkungan dan pengurangan emisi," tambahnya.

Melalui monetisasi aset karbon, pengurangan emisi dari proyek energi terbarukan dapat memiliki nilai ekonomi. Skema tersebut juga dapat memberikan tambahan insentif bagi investasi dan pengembangan sektor energi bersih.

Dalam kerja sama ini, PLN Indonesia Power diwakili Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga Julita Indah bersama Specialist, Business Development Sustainable Technologies - SEA South Pole AG Fadri Mokolintad.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan percepatan transisi energi menjadi penting di tengah dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi ketersediaan energi.

"Dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketersediaan energi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, Indonesia perlu terus mendorong kemandirian dan swasembada energi melalui peningkatan pasokan, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," ujar Yuliot.

PLN Indonesia Power menyebut pengembangan aset karbon PLTP Gunung Salak menjadi salah satu skema untuk memperoleh manfaat ekonomi dari pengurangan emisi sekaligus mengembangkan pembangkit energi panas bumi.

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads