Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Indonesia menjadi negara pertama yang menjalankan program B50. Program yang baru berjalan pada Juli 2026 ini sudah menarik minat Malaysia, Jepang, dan Eropa untuk belajar mengenai program B50 ini.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan penerapan B50 menjadi salah satu tonggak penting bagi Indonesia dalam mendorong kemandirian energi.
"Jadi pertama kali Indonesia melakukan pengujian ini dan banyak yang mengikuti, bahkan sekarang menjadi ketertarikan negara-negara lain sekarang belajar ke kami. Jadi ada dari Jepang, dari Malaysia, dari Eropa sekarang datang belajar ke kami, Pak. Jadi ini merupakan tonggak sejarah bagi Indonesia untuk kita membuktikan kemandirian energi," ujar Eniya dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Selasa (8/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eniya menjelaskan program B50 memberikan sejumlah manfaat bagi Indonesia, salah satunya meningkatkan pemanfaatan bahan baku energi dari dalam negeri. Menurutnya, hal tersebut dapat memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional, terutama ketika terjadi gejolak geopolitik.
Kemudian, program ini juga dapat mengurangi impor solar dan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 44,46 juta ton CO2.
"Kalau diasumsikan 18 juta kiloliter, ini bisa setara dengan 310.000 barrel per day. Kalau lifting minyak kita 610.000 barrel per day, maka lifting minyak dari nabati ini bisa setengahnya. Sudah mencapai setengahnya, yaitu 310.000 barrel per day," katanya.
Kemudian Eniya menyebutkan bahwa program B50 diperkirakan memberikan penghematan hingga Rp 170 triliun pada 2026. Dari sisi tenaga kerja, Eniya mengatakan ada sekitar 2,1 juta tenaga kerja dapat terserap dari pengembangan industri biodiesel pada 2026.
"Sekaligus kami juga mendorong produksi FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Jadi meningkatkan feedstock yang ada di industri FAME kita, itu diperkirakan 16 sampai 18 juta kiloliter yang dimandatorikan di tahun ini hingga Desember," katanya.
"Lalu manfaat dari program B50 ini adalah mendorong nilai tambah CPO (Crude Palm Oil) hingga Rp 20,92 triliun rupiah. Dan tentu saja harga minyak sawit yang ada di petani ini meningkat, sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi petani," sambungnya.
m B50 diperkirakan memberikan penghematan hingga Rp 170 triliun pada 2026. Dari sisi tenaga kerja, Eniya ada sekitar 2,1 juta juta tenaga kerja dapat terserap dari pengembangan industri biodiesel pada 2026.
"Sekaligus kami juga mendorong produksi FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Jadi meningkatkan feedstock yang ada di industri FAME kita, itu diperkirakan 16 sampai 18 juta kiloliter yang dimandatorikan di tahun ini hingga Desember," katanya.
"Lalu manfaat dari program B50 ini adalah mendorong nilai tambah CPO (Crude Palm Oil) hingga Rp 20,92 triliun rupiah. Dan tentu saja harga minyak sawit yang ada di petani ini meningkat, sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi petani," sambungnya.
(hrp/fdl)









































