Harga Minyak Tembus US$ 101/Barel, Purbaya: Anggaran Masih Cukup

Harga Minyak Tembus US$ 101/Barel, Purbaya: Anggaran Masih Cukup

Andi Hidayat - detikFinance
Kamis, 10 Sep 2026 14:57 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun hingga semester I 2026. Defisit tersebut terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendap
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Harga minyak dunia kembali menembus level tertingginya sejak Mei 2026, yakni menjadi sebesar US$ 101 per barel. Lonjakan harga ini didorong oleh tingginya eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah beberapa waktu terakhir.

Terkait hal tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan kesiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menghadapi tantangan tersebut. Ia mengatakan, APBN masih cukup sebagaimana yang disiapkan pada lonjakan harga minyak beberapa bulan lalu imbas perang AS-Iran di Selat Hormuz.

"Anggarannya masih cukup seperti yang kita hitung sebelumnya," ungkap Purbaya di Kemenkeu, Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya juga mengaku belum ada keputusan untuk membatasi kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Ia juga mengaku akan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

"Kita waspadai terus perkembangannya, jangan sampai naik lebih tinggi lagi," jelasnya.

Purbaya menambahkan, asumsi defisit APBN 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB) masih dalam kisaran rata-rata harga minyak dunia di level US$ 100 per barel. Di samping itu, harga minyak dunia yang dibayar pemerintah juga masih di bawah US$ 90 per barel.

"Kan rata-rata sekarang masih dibuat US$ 90 kalau nggak salah harga minyak dunianya, yang kita bayar ya, untuk asumsi APBN itu. Jadi masih ada ruang. Mudah-mudahan kita nggak naik harga minyak dunia nggak naik lebih tinggi lagi. Seandainya naik ke level yang sekarang, bertahan di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami. Jadi nggak usah terlalu khawatir kita akan atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3%," jelasnya.

Dikutip dari CNBC, lonjakan harga minyak ini didorong oleh meningkatnya pertempuran antara AS melawan Iran di Teluk Persia. Pecahnya perang mendorong kekhawatiran pelaku pasar akan penurunan ekspor energi melalui Selat Hormuz.

Pada akhir perdagangan Rabu (10/9) kontrak berjangka Brent yang kerap menjadi patokan global naik 3,4% menjadi US$ 101,21 per barel. Sementara harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga naik hingga 3,3% dan ditutup pada US$ 96,05 per barel.

Saksikan Live DetikSore:

Simak juga Video Wapres AS: Harga Minyak Tinggi karena Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz

(ahi/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads