Kilang Olah Minyak Jelantah Jadi Bioavtur Mau Dibangun, Butuh Rp 19 Triliun

Kilang Olah Minyak Jelantah Jadi Bioavtur Mau Dibangun, Butuh Rp 19 Triliun

Retno Ayuningrum - detikFinance
Kamis, 10 Sep 2026 19:07 WIB
Pembangunan Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) yang berada di area Kilang Cilacap sudah rampung. Kilang yang memproduksi gasoline RON 92 atau Pertamax itu akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat. Rencananya akan diresmikan pa
Ilustrasi: Area Kilang Cilacap.Foto: Hasan Alhabshy
Cilacap -

PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan untuk membangun proyek bioavtur/biorefinery Cilacap yang mengubah minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) menjadi bahan bakar ramah lingkungan membutuhkan total investasi sebesar US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 19,25 triliun (kurs Rp 17.500).

Salah satunya akan memproduksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau sustainable aviation fuel (SAF/bioavtur).

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan proyek tersebut masih dalam tahap pengembangan. Adapun masterplan-nya telah dilakukan pada 2025 lalu, mulai dari engineering design, rencana pembangunan hingga proses tender.

"Pada 2026 ini kita melakukan proses FID (Final Investment Decision) dan partnership process untuk menentukan partner," ujar Hermawan dalam acara Pertamina Media Xpose di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu masuk dalam tahap konstruksi atau engineering, procurement, and construction (EPC) pada 2027. Ia menargetkan kilang tersebut mulai memproduksi pada 2029.

"Nilai total investasi estimasinya kira-kira mencapai sekitar US$ 1,1 billion," tambah Hermawan.

ADVERTISEMENT

Hermawan membeberkan proyek tersebut dibangun di lahan sekitar 17,5 hektar di sekitar area Kilang Cilacap. Adapun kapasitas pengolahannya ditargetkan mencapai sekitar 860 kiloliter per hari.

Pembangunannya menjadi bagian dari pengembangan bahan bakar ramah lingkungan. Selain itu, hasil produk dari kilang akan didistribusikan ke sejumlah bandara internasional, seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.

Sebelumnya pada 2024, telah dilakukan pilot test penggunaan UCO untuk SAF. Kemudian pada Juli-Agustus 2025, produksi pertama SAF berbahan baku UCO dilakukan di RU IV Cilacap.

"Jadi waste yang selama ini tidak berguna kita jadikan produk yang bermanfaat dan punya nilai tinggi," tambah Hermawan.

(rea/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads