Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Barat mengalami kendala karena pendangkalan alur Sungai Kapuas dan turunnya debit air.
Menghadapi kondisi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga langsung mengambil langkah cepat dengan menyiapkan rencana kontinjensi demi memastikan pasokan energi bagi masyarakat tetap aman.
"Ini adalah sebuah force majeure. Kalau kita melihat biasanya sungai yang kemudian digunakan untuk jalur kapal mengirimkan BBM, ternyata kering, mau tidak mau, maka kita harus melakukan yang namanya kontinjensi plan," ujar Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun saat ditemui di Cilacap, Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Roberth menjelaskan pengalihan jalur distribusi ini tentunya memakan waktu pengiriman lebih lama. Ia menyebut jika penyaluran melalui jalur sungai biasanya memakan waktu satu hari, pengiriman lewat darat menggunakan mobil tangki kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama dari satu hari.
"Jadi, kalau lewat sungai misalnya satu hari, tapi kalau lewat darat dengan menggunakan mobil tangki, kemungkinan lebih dari satu hari. Tapi BBM-nya semaksimal mungkin kami berkomitmen untuk menyampaikan," jelsnya.
Meski begitu, Roberth menegaskan Pertamina tetap berkomitmen untuk semaksimal mungkin menyampaikan BBM hingga ke tangan masyarakat. Ia juga mengimbau kepada semua pihak agar menggunakan BBM secara bijak dan hemat.
"Jangan memanfaatkan dengan misalnya jalur sungainya kering. Kemudian terjadi pembelian berulang di SPBU yang kemudian dijual kembali dengan harga mahal. Ini kami sangat menyayangkan bagaimana masyarakat sudah berhadapan dengan El Nino, mereka butuh energi, tapi kemudian ada pihak-pihak yang justru memanfaatkan," terang.
Sebelumnya, Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fathul Nugroho mengatakan distribusi BBM ke masyarakat tetap dijaga dengan skema alternatif dan darurat agar pasokan tidak terganggu.
"Terkait dengan distribusi BBM untuk Kalimantan Barat ini ada sedikit gangguan akibat pendangkalan alur Sungai Kapuas dan debit airnya yang turun, sehingga kapal tanker BBM kandas, terutama di Fuel Terminal Sanggau dan Sintang. Mudah-mudahan dari hasil diskusi dan paparan dari Pertamina Patra Niaga sudah disiapkan skema alternative dan emergency suplainya bisa berjalan dengan baik," kata Fathul saat ditemui di Integrated Terminal (IT) Pontianak, Selasa (17/2/2026).
Untuk mengatasi gangguan tersebut, salah satu opsi yang dibahas adalah penggunaan tongkang terapung (floating barge) sebagai jetty sementara. Dengan skema ini, bongkar muat BBM dilakukan langsung dari kapal tanker ke mobil tangki.
(rea/hns)









































