×
Ad

Jurus Pertamina Atasi Antrean Panjang di SPBU

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 11 Sep 2026 13:10 WIB
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto. Foto: Retno Ayuningrum/detikFinance
Cilacap -

PT Pertamina Patra Niaga menyatakan ketersediaan stok bahan bakar minyak (BBM) aman dan mencukupi. Hal ini disampaikan Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto saat menyoroti antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Eko mengatakan antrean tersebut dipicu oleh terjadinya shifting atau pergeseran konsumsi BBM akibat kenaikan harga minyak dunia.

"Ini sebenarnya secara BBM stok tersedia, hanya karena terjadinya shifting karena kenaikan harga cukup tinggi ya, shifting dari produk-produk yang non-PSO, Pertamax series, kemudian Dex itu ke Pertalite maupun ke Biosolar (produk BBM subsidi)," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

Pergeseran konsumsi masyarakat beralih ke BBM subsidi ini berdampak langsung pada penumpukan kendaraan di beberapa titik penyalur. Di sisi lain, fasilitas sarana dan prasarana (sarpras) di SPBU memiliki keterbatasan ruang untuk menambah dispenser atau nozzle, khusus Pertalite dan Biosolar secara instan karena telah didesain sesuai dengan populasi kebutuhan awal masyarakat setempat.

"Karena kita sudah mendesain juga dengan kondisi kebutuhan ataupun populasi dari masyarakatnya sendiri. Jadi ini kita sedang mencari mitra-mitra bisa membangun-bangun titik-titik SPBU, bisa konsorsium lah nanti," tambah Eko.

Menurutnya, upaya memperluas SPBU berskala lebih kecil akan banyak dilakukan wilayah-wilayah yang memiliki jarak antar penyalur cukup jauh seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Dengan ukuran lebih kecil ini, dia berharap mampu memecah konsentrasi antrean panjang di SPBU utama sekaligus memberikan kemudahan bagi para investor atau mitra lokal dengan nilai investasi yang lebih terjangkau.

"Dan ini mungkin salah satu solusi untuk daerah-daerah khususnya daerah-daerah yang Sumatera, Kalimantan, maupun juga Sulawesi yang jarak antara lembaga penyalurnya cukup jauh, kami bisa sisipkan di antaranya dengan membangun SPBU bertipe kecil supaya bisa memecah antrean," beber Eko.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas menyampaikan adanya tren pergeseran konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat dari BBM non subsidi ke BBM bersubsidi. Hal ini terjadi usai terjadi kenaikan harga Pertamax.

"Ini menunjukkan adanya pergerakan harga BBM khususnya RON 90 ini Pertalite. Ini konsumsinya cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan harga BBM non subsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," ujar Wahyudi dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).

Wahyudi menjelaskan rata-rata penyaluran Pertalite harian pada periode 18 April hingga 10 Juni 2026 mencapai 75.795 kiloliter (KL). Namun, usai harga BBM non subsidi naik, konsumsi Pertalite harian turut melonjak.




(rea/hal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork