Pertama di RI, Pertamina EP Sulap Gas Kotor CO2 Jatibarang Jadi Energi Bersih

Pertama di RI, Pertamina EP Sulap Gas Kotor CO2 Jatibarang Jadi Energi Bersih

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2026 13:44 WIB
Pertamina EP
Foto: PHE
Indramayu -

Jatibarang Field yang dikelola Pertamina EP (PEP) Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat terus menggalakkan produksi minyak dan gas (migas) untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Hal ini dilakukan salah satunya melalui pengoperasian Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP-ABG).

Supervisor Production SP-ABG, Dedy Gradienda, mengatakan secara keseluruhan saat ini Lapangan Jatibarang yang memiliki ratusan sumur migas mampu memproduksi minyak mentah sekitar 11.000 barel per hari (BOPD). Di mana dari jumlah tersebut, fasilitas SP ABG merupakan salah satu penopang utama dalam jaringan produksi di kawasan.

"Kita masih bisa memproduksikan minyak per hari ini sampai di 11.000 barrel oil per day, yang mana untuk struktur dari SP ABG sendiri kita masih bisa berkontribusi di kisaran 2.500. Ya kurang lebih sekitar 25-30% dari total produksi Jatibarang itu dari SP-ABG, gitu," ujar Dedy di fasilitas SP-ABG, Indramayu, Selasa (22/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya minyak, lapangan ini juga mampu memiliki lapisan gas yang sangat besar. Sayang lapisan sumber energi ini memiliki kandungan gas dengan tingkat impurities yang sangat tinggi, yakni CO2 dan H2S content mencapai 65%.

Kondisi inilah yang kemudian membuat Pertamina sebelumnya tidak dapat memanfaatkan sumber daya alam tersebut sebagai sumber energi. Alhasil gas alam yang dihasilkan dari proses ekstraksi minyak bumi di kawasan ini harus dibakar agar tidak mencemari udara sekitar.

ADVERTISEMENT

Namun, Dedy mengatakan kondisi tersebut sudah bisa datasi dengan penggunaan teknologi CO2 Removal Package dengan sistem amine (MDEA), Gas Dehydration Unit (DHU) atau Unit Dehidrasi, dan Thermal Oxidation (TOX).

Teknologi ini berguna untuk menurunkan kadar karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), serta air pada gas sehingga kualitas gas yang ada dapat memenuhi spesifikasi Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang berlaku.

"Jadi di Indonesia mungkin ini plant satu-satunya ya untuk bisa menurunkan kandungan CO2, CO2 content 65% menjadi 5%" paparnya.

Berkat proses menurunkan kadari CO2 dan H2S ini, SP-ABG mampu mengolah gas dengan tingkat impurities tinggi sebesar 10 - 11 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) menjadi gas bersih untuk sumber energi industri sebanyak 3,3 - 3,5 MMSCFD.

Dalam hal ini Dedy mengatakan ke depan Pertamina EP berencana untuk menaikkan kapasitas pemrosesan hingga 22 MMSCFD feed gas demi menghasilkan 8 MMSCFD gas bersih melalui sejumlah tahapan teknis, termasuk penuntasan rekomendasi fasilitas Thermal Oxidizer (TOX).

"Target itu ketika nanti dari TOX atau Thermal Oxidizer-nya sudah selesai, rekomendasinya sudah dijalankan, running TOX, nah kita akan mencoba running full capacity di 22 MMSCFD. InsyaAllah informasi yang saya dapat itu di akhir tahun atau awal tahun lah kita bisa commissioning dan start up dua dua train tadi, gitu," terang Dedy.

Melalui tahapan commissioning dan start-up dua train pengolahan tersebut, Lapangan Jatibarang optimistis dapat mengamankan pencapaian target produksi gas sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

"Target di 2026, yang pasti kita akan berusaha me-running dua plant SP ABG ini sampai full capacity di 22 MMSCFD supaya target di 8 MMSCFD akhir tahun bisa achieve. Gitu target kita," terangnya.

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads