Sukses Olah Gas High CO2, SP-ABG Jatibarang Jadi Proyek Percontohan Natuna

Sukses Olah Gas High CO2, SP-ABG Jatibarang Jadi Proyek Percontohan Natuna

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2026 13:48 WIB
Pertamina EP
Foto: PHE
Indramayu -

Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP-ABG) di Lapangan minyak dan gas (migas) Jatibarang, Jawa Barat, sukses menjadi pionir dalam pemrosesan gas bumi berkandungan karbondioksida tinggi (high CO2) menjadi gas yang siap digunakan sebagai sumber energi.

Keberhasilan inovasi pengolahan gas di SP-ABG ini dapat menjadi proyek percontohan (pilot project) yang siap direplikasi pada proyek-proyek raksasa nasional lainnya dengan karakteristik gas alam serupa, seperti Blok Natuna.

Supervisor Production SP-ABG Pertamina EP Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat, Dedy Gradienda, mengatakan keberadaan fasilitas pengolahan ini tidak hanya menjadi solusi teknis atas tantangan produksi energi dari gas berkandungan impurities tinggi, tetapi juga menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan energi nasional yang lebih berkelanjutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bisa direplikasi di beberapa tempat yang lain yang memiliki kandungan CO2 yang sama, gitu. Seperti contohnya Natuna yang saya dapat info itu, itu bisa direplikasikan. Makanya ini merupakan pilot project, percontohan supaya ketahanan energi di Indonesia tetap berlanjut lah," ujar Dedy di fasilitas SP-ABG, Indramayu, Selasa (22/9/2026).

Dedy menjelaskan keberhasilan SP-ABG Jatibarang dalam mengolah gas high CO2 didukung oleh penggunaan teknologi sirkulasi amina. Fasilitas ini mampu menekan tingkat kandungan CO2 yang sangat ekstrem secara signifikan sehingga gas tersebut layak dan bernilai guna tinggi untuk dipasarkan.

"Teknologi yang digunakan di CO2 ABG ini sama dengan teknologi pada umumnya yaitu dengan menggunakan sirkulasi amina. Namun yang perlu di-highlight di sini adalah 65% CO2 content di ABG ini merupakan plant pertama di dunia mungkin, yang bisa memproduksikan atau memproses kandungan CO2 menjadi 5%," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Keberhasilan pemrosesan ini membuat gas alam yang awalnya tidak bisa digunakan sebagai sumber energi, kini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi di pasar energi nasional. Dalam hal ini fasilitas SP-ABG mampu mengolah gas dengan tingkat impurities tinggi sebesar 10 - 11 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) jadi gas bersih sebanyak 3,3 - 3,5 MMSCFD.

"Gas dari ABG merupakan gas (harga) terbesar yang dijual ke konsumen sebesar US$ 9 per MMBTU-nya gitu," ungkapnya.

Dalam hal ini Dedy mengatakan ke depan Pertamina EP berencana untuk menaikkan kapasitas pemrosesan hingga 22 MMSCFD feed gas demi menghasilkan 8 MMSCFD gas bersih melalui sejumlah tahapan teknis, termasuk penuntasan rekomendasi fasilitas Thermal Oxidizer (TOX).

"Target itu ketika nanti dari TOX atau Thermal Oxidizer-nya sudah selesai, rekomendasinya sudah dijalankan, running TOX, nah kita akan mencoba running full capacity di 22 MMSCFD. InsyaAllah informasi yang saya dapat itu di akhir tahun atau awal tahun lah kita bisa commissioning dan start up dua dua train tadi, gitu," terang Dedy.

Melalui tahapan commissioning dan start-up dua train pengolahan tersebut, Lapangan Jatibarang optimistis dapat mengamankan pencapaian target produksi gas sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

"Target di 2026, yang pasti kita akan berusaha me-running dua plant SP-ABG ini sampai full capacity di 22 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) supaya target di 8 MMSCFD akhir tahun bisa achieve. Gitu target kita," terangnya.

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads