Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya Kembangkan Bioavtur dari Limbah Sawit

Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya Kembangkan Bioavtur dari Limbah Sawit

Dea Duta Aulia - detikFinance
Senin, 28 Sep 2026 16:03 WIB
Universitas Prasetiya Mulya
Foto: Universitas Prasetiya Mulya
Jakarta -

Di tengah upaya dunia mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk mengurangi emisi karbon, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan produk samping industri kelapa sawit sebagai bahan baku bioavtur. Peluang tersebut menjadi fokus penelitian Gizky Dwi Andana, mahasiswa Program Studi Renewable Energy Engineering (REE) Universitas Prasetiya Mulya angkatan 2021, yang berhasil mengembangkan katalis untuk mengolah Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) menjadi bioavtur.

Penelitian itu sekaligus mengantarkannya meraih Global Korea Scholarship (GKS), beasiswa penuh dari Pemerintah Korea Selatan untuk melanjutkan studi magister di Gyeongsang National University.

Riset yang dilakukan Gizky menjawab tantangan global untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk samping industri sawit. Melalui pemanfaatan PFAD sebagai bahan baku, ia mengembangkan katalis berbasis metal-organic framework (MOF) ZIF-67 untuk mempercepat proses konversi menjadi bioavtur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil pengujian menunjukkan tingkat konversi PFAD di atas 99 persen dengan selektivitas bioavtur mendekati 80 persen. Angka tersebut menunjukkan efisiensi proses yang sangat tinggi sehingga berpotensi mendukung pengembangan teknologi produksi bioavtur yang lebih efektif.

Inovasi ini juga tengah memasuki proses pengajuan paten bersama tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai bagian dari upaya hilirisasi hasil riset menuju pemanfaatan yang lebih luas.

ADVERTISEMENT
Universitas Prasetiya MulyaKatalis 1:1, katalis ini dibuat dengan menggunakan nikel dan tembaga dalam jumlah yang sama. Secara keseluruhan, kedua logam tersebut menyumbang 10% dari komposisi katalis.

Gizky mengatakan penelitian tersebut berawal dari keinginan memanfaatkan potensi yang selama ini belum dimaksimalkan.

"Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Saya melihat masih banyak produk samping yang belum dimanfaatkan secara optimal. Saya percaya limbah bukan berarti tidak berguna. Tantangannya adalah menemukan cara agar limbah itu memiliki nilai dan memberi manfaat yang lebih besar," kata Gizky dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).

Perjalanan riset itu juga menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat terlibat langsung dalam penelitian berskala nasional sejak masih kuliah. Sebagai asisten peneliti di BRIN, Gizky terlibat dalam berbagai tahapan penelitian, mulai dari sintesis material katalis, pengujian laboratorium, hingga pengembangan teknologi yang berpotensi diterapkan di sektor energi.

Di bawah bimbingan Peneliti BRIN Deliana Dahnum serta Kepala Program Studi Renewable Energy Engineering Universitas Prasetiya Mulya Fidelis pengalaman tersebut memperkaya kompetensi sekaligus membangun portofolionya sebagai peneliti muda. Pengalaman itu menjadi salah satu bekal yang mengantarkannya meraih beasiswa penuh untuk melanjutkan studi di Korea Selatan.

Menurut Fidelis, pengalaman riset menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di Program Studi Renewable Energy Engineering karena mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga dibiasakan menyelesaikan persoalan nyata melalui pendekatan ilmiah.

"Mahasiswa akan belajar jauh lebih cepat ketika mereka diberi kesempatan menyelesaikan persoalan nyata. Karena itu kami membuka ruang kolaborasi dengan BRIN dan berbagai mitra agar pengalaman riset tidak berhenti di laboratorium kampus. Perjalanan Gizky menunjukkan bagaimana pembelajaran, riset, dan kolaborasi dapat melahirkan inovasi yang bermanfaat sekaligus membuka peluang di tingkat global," kata Fidelis.

Di Gyeongsang National University, Gizky berencana melanjutkan penelitian menggunakan material berbasis ZIF-67 untuk aplikasi penangkapan karbon dioksida (CO₂), teknologi yang diharapkan dapat mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

Perjalanan Gizky memperlihatkan bahwa karir di bidang energi bersih dapat dibangun sejak di bangku kuliah melalui pengalaman riset, kolaborasi dengan industri, dan keterlibatan dalam proyek-proyek strategis. Seiring meningkatnya investasi pada sektor energi terbarukan, dekarbonisasi industri, dan teknologi keberlanjutan, kebutuhan terhadap talenta di bidang rekayasa energi juga terus bertumbuh.

Melalui Program Studi Renewable Energy Engineering (REE), Universitas Prasetiya Mulya, mahasiswa dibekali pengalaman belajar berbasis riset, proyek bersama industri, serta kolaborasi dengan lembaga penelitian nasional. Pendekatan tersebut membuka peluang karier di berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, manufaktur, minyak dan gas, teknologi, konsultan keberlanjutan, lembaga riset, hingga perusahaan yang menjalankan transformasi menuju energi bersih. Lulusan juga memiliki kesempatan melanjutkan studi di berbagai universitas terkemuka dunia.

"Bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam pengembangan energi bersih dan teknologi berkelanjutan, Program Studi Renewable Energy Engineering (REE) Universitas Prasetiya Mulya menawarkan lingkungan belajar yang menghubungkan ruang kelas, laboratorium riset, dan dunia industri. Pengalaman seperti yang dijalani Gizky menunjukkan bahwa langkah menuju karir di sektor energi masa depan dapat dimulai sejak menjadi mahasiswa," tutup Fidelis.

Informasi mengenai Program Studi Renewable Energy Engineering, kurikulum, beasiswa, dan jalur penerimaan mahasiswa baru dapat diperoleh melalui https://www.prasetiyamulya.ac.id/program-s1/s1-renewable-energy-engineering/.

(akd/ega)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads