Kaya Minyak, Irak Malah Krisis: Rp 1.078 T Pendapatan Hilang

Kaya Minyak, Irak Malah Krisis: Rp 1.078 T Pendapatan Hilang

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 28 Sep 2026 16:19 WIB
Oil trucks arrive from Iraq, on their way to the Baniyas oil terminal, in Qamishli, Syria, May 11, 2026. REUTERS/Orhan Qereman
Foto: REUTERS/Orhan Qereman
Jakarta -

Ekonomi Irak kini berada di ambang kehancuran imbas gangguan dari perang antara Amerika Serikat (AS) melawan Iran. Terhentinya jalur perdagangan melalui Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu mencekik negara yang sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan barang pokok dan ekspor minyak sebagai 'modal belanja'.

Melansir Al Jazeera, Senin (28/9/2026), Irak merupakan negara yang sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya mulai dari makanan dan obat-obatan hingga peralatan rumah tangga, serta bahan baku untuk industrinya.

Sedangkan sekitar 90% pemasukan negara ini berasal dari ekspor minyak dengan total cadangan sumber daya alam yang sangat besar. Membuat pendapatan Irak dari hasil ekspor minyak ke luar negeri mengimbangi biaya impor, bahkan Irak kerap kali memiliki surplus perdagangan dari proses ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun keadaan berubah sejak perang AS melawar Iran pecah pada akhir Februari, membuat arus perdagangan bebas melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sebagian besar perdagangan negara itu dengan seluruh dunia terputus.

Bahkan kini Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menggambarkan negara itu sebagai negara yang sedang menghadapi tantangan ekonomi yang luar biasa. Sebab negara itu telah kehilangan sekitar US$ 60 miliar atau Rp 1.078,68 triliun (Kurs Rp 17.978/dolar AS) dari pendapatan minyak akibat perang.

ADVERTISEMENT

Sementara gangguan pada rute pelayaran Hormuz juga memutus rantai pasok berbagai barang kebutuhan pokok warga setempat meningkatkan waktu dan biaya transportasi, hingga menekan drastis volume impor.

Alhasil banyak warga kini harus mengandalkan barang lokal seiring dengan menipisnya stok produk impor di toko-toko. Seperti salah satunya yang dialami seorang pemilik supermarket di Baghdad, Alaa-Eddin Sulaibi, yang mengatakan jumlah barang impor yang dijual di tokonya saat ini sekitar 70%, turun dari kondisi sebelum perang dimulai yakni 90%.

"Kami tidak punya pilihan selain menjual produk lokal, meskipun kualitasnya tidak sama dengan produk impor," katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa harga barang impor di Irak kini telah naik antara 25% hingga 30%. Sebab barang-barang impor yang mayoritas datang dari China ini menghadapi penundaan yang signifikan.

Bahkan dalam beberapa kasus membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk sampai karena peningkatan biaya transportasi akibat importir terpaksa mengambil rute yang lebih berliku untuk menghindari Selat Hormuz, atau tertunda di titik rawan maritim tersebut.

"Alasan (kenaikan harga) tidak hanya terbatas pada gangguan di Teluk, tetapi juga waktu pengiriman yang lebih lama untuk barang yang datang dari China, dan biaya bahan bakar dan transportasi yang lebih tinggi, khususnya untuk perdagangan dengan Turki," jelasnya.

Beberapa pedagang yang berbicara kepada Al Jazeera juga menyampaikan hal serupa. Menunjukkan bagaimana saat ini Irak sedang dilanda krisis ekonomi dari segi penurunan pendapatan nasional imbas pelemahan ekspor hingga terbatasnya stok produk impor untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat.

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads