Trump Bikin Iran Makin Panas, Harga Minyak Tembus US$ 103 per Barel

Trump Bikin Iran Makin Panas, Harga Minyak Tembus US$ 103 per Barel

Heri Purnomo - detikFinance
Rabu, 30 Sep 2026 11:39 WIB
Sebuah gambar menunjukkan pemandangan fase 12 fasilitas ladang gas South Pars di dekat kota Kangan di selatan Iran, di tepi Teluk, pada 22 Januari 2014. Harga minyak melonjak setelah serangan Israel menghantam fasilitas Iran di ladang gas utama Teluk
Foto: (AFP/BEHROUZ MEHRI)
Jakarta -

Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Kenaikan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah adanya laporan bahwa dirinya bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran. Padahal, kedua negara sudah saling berkomunikasi untuk mencari jalan terbaik.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik US$ 1,14, atau 1,11%, menjadi US$ 103,73 per barel. Begitu juga untuk minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 34 sen, atau 0,38%, menjadi US$ 89,72.

Brent berada di jalur kenaikan bulanan sekitar 14%, yang akan menjadi kenaikan terbesar sejak Juli. Sedangkan WTI diperkirakan mencatat kenaikan sekitar 4% setelah sempat menembus US$ 106 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Selasa, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari mengatakan bahwa mereka berharap diplomasi ulang-alik antara Iran dan AS dapat menghasilkan terobosan.

"Kami saling bertukar pesan antara kedua pihak, dan kami berupaya untuk membangun titik temu agar dapat mencapai kesepakatan yang akan menyelamatkan kita semua dari dampak buruk konflik ini," katanya.

ADVERTISEMENT

Namun, Trump membantah laporan Axios yang mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa ia bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah-langkah "konkret" dari Teheran terkait program nuklirnya.

"Ini tidak benar. Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump di Truth Social.

Di sisi lain, Arab Saudi melanjutkan pemuatan kapal tanker minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah memulai kembali operasi pada Pipa Timur-Barat.

Ekspor minyak mentah dari produsen Timur Tengah pulih pada bulan September menjadi 16,328 juta barel per hari, tertinggi sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari.

Persediaan minyak mentah dan bensin AS meningkat, sementara stok distilat menurun pekan lalu, kata sumber pasar pada hari Selasa, mengutip data dari American Petroleum Institute. Menurut sumber, stok minyak mentah meningkat sebesar 1,02 juta barel pada pekan yang berakhir tanggal 25 September.

(hrp/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads