Pemerintah Klaim Harga BBM RI Lebih Murah Dibandingkan Negara Lain

Pemerintah Klaim Harga BBM RI Lebih Murah Dibandingkan Negara Lain

Heri Purnomo - detikFinance
Senin, 05 Okt 2026 15:03 WIB
Warga membeli bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina kawasan Cilandak, Jakarta, Selasa (1/9/2026). PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga sejumlah produk BBM non subsidi per 1 September 2026.
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Pemerintah mengklaim harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia lebih murah dibandingkan 12 Negera tetangga. Misalnya, dengan Thailand dan Singapura.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir ketika merangkum penjelasan dari Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang dipantau dari YouTube Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (5/10/2026).

"Maaf Pak Joko dipotong, ini langsung singkat saja bahwa negara kita dibandingkan dengan negara lain masih paling murah. Jadi bahasa Indonesia, masih paling murah supaya masyarakat kita tahu. Dibandingkan dengan 12 negara lain tetangga kita mulai dari RON 92 kita paling murah, bisa dilihat angkanya," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun berdasarkan paparan Pertamina Patra Niaga, harga BBM RON 92 di Indonesia berada di angka Rp 15.950 per liter. Sementara untuk Singapura berada di angka Rp 48.514 per liter, Thailand berada di angka Rp 21.213 per liter.

Kemudian untuk BBM dengan RON 95, harga di Indonesia sebesar Rp 19.150 per liter. Singapura berada di harga Rp 55.086 per liter, Thailand berada di angka Rp 26.424 per liter.

ADVERTISEMENT

"RON 95 juga kita paling murah, kemudian RON 97-98 juga paling murah. Diesel kita nomor 2, India paling murah nomor 1, nomor 2 Pakistan, nomor 3 Malaysia, dan kita nomor 4. Kalau Avtur kita paling murah," katanya.

"Kalau Avtur paling murah ini tentunya dapat meng cosh angkutan udaranya, mudah-mudahan kita juga paling murah," sambungnya.

Awanya, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menjelaskan terkait pergerakan harga BBM nonsubsidi dan avtur di Indonesia. Di mana harga BBM nonsubsidi dan avtur mengalami kenaikan signifikan setelah terjadi konflik geopolitik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026.

"Mungkin khusus yang Pertamax dan Pertamax Green sejak April itu memang ada pembatasan, tidak naik, baru kemudian di bulan Juni dinaikkan dan posisi bulan ini per Oktober itu memang untuk harga seluruh JBU retail dan avtur itu masih kita tahan sama dengan harga September. Jadi kalau dilihat harga yang paling ujung seluruh JBU maupun yang avtur di September dan Oktober itu harganya tetap," katanya.

Ia menjelaskan kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur mayoritas dipengaruhi faktor geopolitik sejak 28 Februari 2026.

"Kalau kita compare harga BBM dan avtur kita dengan negara-negara sekitar, negara-negara ASEAN maupun negara-negara terdekat, Australia, Pakistan, India, dan sebagainya. Sebenarnya in overall, in overall masih sangat kompetitif dibandingkan negara-negara yang lain," terangnya.



(hrp/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads