Menteri Keuangan Suahasil Nazara buka-bukaan soal dampak kenaikan harga minyak global terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dia mengatakan beberapa waktu terakhir harga minyak dunia sempat menyentuh harga US$ 105 per barel.
Adapun pada penutupan perdagangan Kamis, harga minyak mentah Brent diketahui menguat 4,1% atau sekitar US$ 4,08 menjadi menjadi US$ 104,28 per barel. Pada sesi yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 3,6% atau sekitar US$ 3,21 menjadi US$ 91,49 per barel.
"Harga komoditas kalau kita lihat itu, Brent itu sebelah kiri atas US$ 102 per barel. Tapi hari-hari ini kita sudah melihat US$ 105 dan ini semua pasti akan ada implikasi ke APBN kita. Implikasi kepada pendapatan, implikasi kepada belanja dan seterusnya," ungkap Suahasil dalam acara APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suahasil juga menyebut sejumlah harga komoditas mengalami pelemahan dalam beberapa bulan terakhir. Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) tercatat sebesar US$ 1.090,7 per ton, sedangkan nikel berada di level US$ 15.634 per ton.
Tren serupa terjadi pada batu bara yang harganya turun menjadi US$ 149,3 per ton. Sementara itu, harga emas melemah ke level US$ 4.182 per troy ounce dan tembaga berada di US$ 14.244 per ton.
Menurut Suahasil, volatilitas harga komoditas dipicu ketidakpastian global. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi harga komoditas, tetapi juga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
"Ini tentu akan memiliki implikasi pada pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi negara maju maupun negara berkembang. Bukan hanya kepada pertumbuhan ekonomi efeknya tapi juga kepada harga-harga komoditas," ungkap Suahasil.
Suahasil menambahkan, sejumlah lembaga internasional telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Bahkan proyeksi tersebut lebih rendah dari proyeksi 2025.
"Lembaga-lembaga internasional menurunkan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah. Pertumbuhan global 2026 ini diproyeksikan lebih rendah dari pada pertumbuhan tahun 2025," pungkas Suahasil.
(ahi/hal)









































