Target PLTS 100 GWp, Tantangan RI Bukan Cuma Bangun Pembangkit

Target PLTS 100 GWp, Tantangan RI Bukan Cuma Bangun Pembangkit

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 09 Okt 2026 10:19 WIB
Ilustrasi PLTS
Foto: Getty Images/iStockphoto/undefined undefined
Jakarta -

Target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) di Indonesia menghadapi tantangan di luar pembangunan pembangkit. Sistem kelistrikan juga perlu mampu menyalurkan dan menyimpan energi yang dihasilkan.

Kebutuhan listrik di Asia Tenggara tumbuh lebih cepat dibandingkan pembangunan sistem transmisi terpusat. Karena itu, pembangkit listrik terdistribusi, seperti PLTS atap dan jaringan mini, yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai atau *Battery Energy Storage System* (BESS), dinilai dapat menjadi salah satu alternatif.

Persoalan tersebut dibahas dalam forum bertema *Distributed Power Generation and Battery Energy Storage* yang digelar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Tenggara Strategics di Bangkok Climate Action Week 2026, Bangkok, Thailand.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan target PLTS 100 GWp di Indonesia juga berkaitan dengan pemerataan akses energi, termasuk untuk desa-desa terpencil yang mengandalkan sektor pertanian dan perikanan.

"Inklusi sosial dan ketahanan energi adalah semangat dari target 100GWp, termasuk menghadirkan energi melalui program elektrifikasi desa. Sebagian besar desa tersebar di daerah terpencil dan bergantung pada sektor pertanian dan perikanan lokal, sehingga penggunaan PLTS untuk kegiatan produktif merupakan solusi yang tepat. Pengalaman Indonesia dalam memberdayakan masyarakat membuktikan bahwa tantangan penyediaan kelistrikan di kawasan Asia Tenggara sejatinya seragam, mulai dari penyesuaian regulasi, proses perizinan, hingga struktur kontrak," ujar Mada. "Melalui forum ini, AESI mengajak pemangku kepentingan regional menyelaraskan langkah. Dengan perizinan yang adaptif dan agregasi proyek, kita dapat mengubah tantangan ini menjadi daya tarik bagi modal global."

ADVERTISEMENT

Direktur Eksekutif Earth Sherpa Hirotaka Koike mengatakan, keberhasilan proyek energi skala komunitas juga bergantung pada kondisi di lapangan dan dukungan kebijakan pemerintah.

"Tantangan operasional di lapangan seringkali luput dari diskusi kebijakan makro. Kunci keberhasilan proyek skala komunitas terletak pada pembangunan ekosistem lokal yang mendukung, serta sinyal politik nasional yang kuat untuk mewujudkan visi sistem energi tersebut," tegasnya.

Deputy Program Director New Energy Nexus Zhou Yu menambahkan, elektrifikasi berbasis komunitas dapat menggabungkan sumber energi surya atap dari berbagai lokasi menjadi portofolio proyek yang lebih menarik bagi investor.

"Model elektrifikasi berbasis komunitas memiliki peran penting dalam mengagregasi sumber daya surya atap yang terfragmentasi menjadi portofolio yang layak investasi. Selain itu, model ini memastikan akses energi bersih yang andal dan terjangkau bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan, di mana perluasan jaringan konvensional dinilai kurang ekonomis," tambahnya.

## Pendanaan dan Keamanan Baterai

Selain pembangunan pembangkit dan jaringan, pendanaan menjadi tantangan dalam pengembangan proyek energi terbarukan skala kecil. Biaya pengembangan yang relatif tinggi membuat penggabungan sejumlah proyek dalam satu portofolio dinilai dapat membantu menarik investor.

Senior Manager Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Luthfyana Kartika Larasati mengatakan skema pendanaan campuran atau *blended finance* dapat digunakan untuk mengurangi risiko awal proyek.

"Aset energi terbarukan terdistribusi sering kali berskala kecil dengan biaya pengembangan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, modal konsesional harus ditargetkan spesifik untuk memitigasi risiko awal dan merangkum aset-aset kecil ini menjadi satu portofolio terpadu," ujar Luthfyana. "Pendekatan agregasi ini akan menciptakan skala investasi yang memadai dan secara efektif menarik keterlibatan pemodal institusional."

Dari sisi teknis, Principal Strategist Energy Transition Forum for the Future SE Asia sekaligus President dan CTO Nascent Technologies Corp. Dr. Joey Ocon menyoroti pentingnya standar keamanan dan daur ulang baterai sebelum proyek penyimpanan energi berkapasitas besar beroperasi.

"Asia Tenggara tidak perlu merumuskan aturan baru terkait baterai, melainkan cukup mengadopsi standar yang telah teruji sebelum proyek berskala gigawatt beroperasi: sertifikasi keseluruhan sistem berdasarkan data uji ketahanan api yang nyata, libatkan otoritas pemadam kebakaran dalam penentuan lokasi, dan pastikan setiap baterai memiliki penanggung jawab di akhir masa pakainya. Memprioritaskan standar keamanan dan daur ulang sejak awal adalah kunci agar penyebaran sistem penyimpanan energi ini dapat bertahan dalam jangka panjang."

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads