Bahlil Sindir Bakrie di Depan Muka: Kawan Ini Tidak Paham-paham Juga

Bahlil Sindir Bakrie di Depan Muka: Kawan Ini Tidak Paham-paham Juga

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 13 Okt 2026 05:55 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Bahlil Lahdalia / Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Indonesia resmi menutup keran impor solar sepenuhnya berkat penerapan program B50, yakni solar dengan campuran minyak kelapa sawit hingga 50%. Namun masih ada perusahaan di sektor tambang yang masih berusaha untuk mengajukan izin impor solar untuk operasional.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang rangkap jabatan sebagai Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, terang-terangan menyebut PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai salah satu perusahaan yang dimaksud masih meminta izin impor solar. Perusahaan ini adalah anak usaha dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), bagian dari Grup Bakrie,

"Kemarin aku baca nih, ajukan lagi KPC ini untuk BBM (impor), aku mau coret, aduh kawan lagi gitu loh. Ini beratnya di situ gitu loh," kata Bahlil dalam acara Rakernas III HIPPI Tahun 2026 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Senin kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut ia ungkapkan langsung di hadapan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Anindya Bakrie yang juga menjabat sebagai petinggi dari Bakrie Group.

ADVERTISEMENT

"Jadi solar kita tidak lagi impor, sudah clear, terkecuali perusahaannya Pak Anin untuk tambang. Aku mau coret, aduh kawan lagi ini, tapi kawan ini tidak paham-paham juga," ujarnya dengan nada bercanda.

Di luar itu, Bahlil menekankan sampai saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar satu juta barel BBM per hari. Hal itu dikarenakan produksi minyak mentah dalam negeri baru di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara konsumsinya di level 1,6 juta barel per hari.

Beruntung dalam hal konsumsi solar, dengan program B50 pemerintah berhasil mengurangi ketergantungan impor karena kebutuhan dalam negeri sepenuhnya sudah terpenuhi berkat bantuan dari produksi campuran minyak sawit.

"Solar kita tidak lagi kita impor, karena total konsumsi kita 39 juta kiloliter. Dari 39 juta kiloliter itu, 50%-nya itu kita pakai dari CPO, sawit," terang Bahlil.

"Bagaimana caranya agar tidak kita tergantung kepada dunia? Mau tidak mau kita harus mengoptimalkan seluruh potensi sumber-sumber energi kita di dalam negeri, baik berbentuk fosil lewat kenaikan lifting, maupun bagaimana cara kita untuk mendapatkan energi alternatif nabati," jelasnya lagi.

Sementara untuk BBM jenis gasoline atau bensin, Bahlil menyebut konsumsi di dalam negeri mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Sayangnya, saat ini Indonesia hanya mampu memproduksi bensin di kisaran 18-19 juta kl per tahun dan selebihnya dipenuhi oleh impor.

Karenanya, dia menegaskan pemerintah sedang mendorong penggunaan bensin dengan campuran etanol dengan target kandungan campuran hingga 50% (E50). Target ini dirancang sangat tinggi berangkat dari keberhasilan penerapan program B50.

"Bagaimana untuk cara yang membuat clear? Kita mau dorong etanol, kita mau dorong sampai dengan E50. Belajar daripada solar yang B50, dari B10 sampai B50. Supaya apa? Ini bahan bakunya dari tebu, singkong, jagung, ini bisa membangun kawasan pertumbuhan ekonomi baru," pungkas Bahlil.

Simak juga Video 'Bahlil Kini Rangkap Jabatan Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM':

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads