Rosatom dan RI Sepakati Pasokan Listrik dari PLTN Terapung 200 MW di Malut

Rosatom dan RI Sepakati Pasokan Listrik dari PLTN Terapung 200 MW di Malut

Hana Nushratu Uzma - detikFinance
Senin, 19 Okt 2026 15:26 WIB
Rosatom
Foto: Rosatom
Jakarta -

Perusahaan energi nuklir Rusia Rosatom State Corporation dan perusahaan nasional Indonesia PT Pembangkit Listrik Nuklir, mencapai kesepakatan kerja sama pasokan listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung. Proyek ini direncanakan memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara (Malut).

Kesepakatan tersebut ditandatangani di sela-sela acara Russian Energy Week (REW) di Moskow, Rusia. Kerja sama ini menjadi tonggak baru dalam hubungan energi antara Indonesia dan Rusia, sekaligus disebut Rosatom sebagai perjanjian ekspor pertama di dunia untuk pasokan listrik dari unit pembangkit listrik terapung.

Dalam proyek tersebut, Rosatom akan menyediakan dua unit Floating Power Unit (FPU)-100 dengan total kapasitas pembangkitan 200 megawatt (MW). Kedua unit menggunakan sistem reaktor nuklir seri RITM yang dirancang untuk menghasilkan listrik rendah karbon secara andal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Rosatom, sistem reaktor itu telah menunjukkan efisiensi, keandalan, dan keamanan selama bertahun-tahun pengoperasian. Pengalaman operasional tersebut menjadi dasar perusahaan untuk mengembangkan penerapannya pada pembangkit listrik nuklir skala kecil, termasuk unit terapung yang dirancang untuk pasar internasional.

Pasokan listrik pertama dari proyek di Indonesia diperkirakan dapat dimulai paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama dalam kontrak pasokan listrik mulai berlaku.

ADVERTISEMENT

Rosatom Sebut Kerja Sama Jadi Tonggak Baru Energi Nuklir

Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting dalam kerja sama energi jangka panjang dengan Indonesia. Menurutnya, Indonesia terus memperkuat ketahanan energi dan mengupayakan pencapaian target netralitas karbon.

"Kerja sama antara Rosatom dan Indonesia berkembang pesat. Pertemuan kami baru-baru ini dengan Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali bahwa negara kepulauan terbesar di dunia ini secara konsisten mengejar arah menuju penguatan keamanan energi dan pencapaian netralitas karbon," ujar Likhachev, dalam keterangan tertulis, Senin (19/10/2026).

"Perjanjian baru kami menandai tonggak penting dalam upaya ini. Rosatom siap menawarkan solusi teknologi paling canggih dan terbukti yang tersedia di pasar global," sambungnya.

Rosatom Foto: Rosatom

Likachev menambahkan kesepakatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pasokan listrik, tetapi juga menjadi dasar kemitraan jangka panjang antara kedua negara. Likachev menyebut perjanjian ini sebagai perjanjian ekspor pertama di dunia yang secara khusus mencakup pasokan listrik dari unit pembangkit listrik terapung. Perusahaan berharap kerja sama tersebut dapat menjadi contoh bagi pengembangan proyek energi nuklir di pasar internasional.

"Saya ingin menekankan signifikansi historis dari tonggak ini, perjanjian ekspor pertama di dunia untuk pasokan listrik dari unit pembangkit listrik terapung. Saya yakin ini akan mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas bisnis global: dengan dukungan pemerintah yang sistematis, sektor swasta secara aktif memimpin dalam memulai proyek infrastruktur nuklir yang mampu mentransformasi perekonomian negara," kata Likachev.

PT Pembangkit Listrik Nuklir Sebut Proyek Tak Gunakan APBN

Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir Yudi Utomo Imardjoko mengatakan pengembangan energi nuklir menjadi salah satu opsi untuk mendukung kebutuhan listrik Indonesia yang terus meningkat. Menurutnya, pasokan listrik rendah karbon yang andal diperlukan untuk mendukung ketahanan energi jangka panjang dan pertumbuhan ekonomi, terutama di kawasan Indonesia Timur.

Yudi juga menegaskan bahwa proyek ini dirancang sebagai kerja sama antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B). Menurutnya, investasi proyek akan berasal dari sektor swasta dan tidak mengandalkan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Yudi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia, khususnya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rusia, atas dukungan dalam memfasilitasi kerja sama tersebut.

"Penyediaan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat sangat penting untuk menjamin masa depan energi Indonesia dalam jangka panjang," kata Yudi.

Sementara itu, investor PT Pembangkit Listrik Nuklir Haji Romo Nitiyudo Wachjo menyebut proyek ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi Indonesia dan mendukung pembangunan di Malut.

"Perjanjian ini merupakan tonggak penting dalam ambisi kita bersama untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia dan menjamin masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. Saya menyampaikan penghargaan yang tulus kepada Presiden Vladimir Putin, delegasi Rusia, dan Rosatom atas kerja sama dan komitmen mereka yang sangat berharga terhadap kemitraan ini," kata Nitiyudo.

"Yang terpenting, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin karena telah mempercayakan kepada Profesor Yudi dan saya tanggung jawab untuk mewujudkan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir 200 MW ke Halmahera Utara, Halmahera Utara, Maluku Utara," sambungnya.

Menurut Nitiyudo, proyek tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat sekaligus mendukung perkembangan ekonomi di Indonesia Timur.

Indonesia Masukkan Energi Nuklir dalam Perencanaan Energi Nasional

Rosatom Foto: Rosatom

Dalam keterangan Rosatom, pemerintah Indonesia disebut telah memasukkan energi nuklir ke dalam perencanaan energi nasional pada 2025. Energi nuklir dipandang sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang dan mendukung pencapaian netralitas karbon pada 2060.

Ketertarikan Indonesia terhadap kerja sama nuklir dengan Rusia juga telah dibahas dalam sejumlah pertemuan tingkat tinggi. Pada 31 Juli 2024, Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan RI (Menhan) sekaligus presiden terpilih, mengunjungi Moskow dan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan minat Indonesia untuk menjalin kerja sama dengan Rosatom. Selanjutnya, pada Mei 2026, Likhachev bertemu Presiden Prabowo untuk membahas peluang kerja sama dalam pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Pembahasan mencakup pembangunan pembangkit listrik nuklir, pengembangan infrastruktur, pelatihan tenaga kerja, serta penerapan teknologi nuklir di luar sektor energi.

Rosatom menyebut pendekatan pengembangan nuklir di Indonesia direncanakan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup penggunaan unit pembangkit listrik nuklir terapung skala kecil, sedangkan tahap berikutnya melibatkan pembangunan PLTN berbasis darat dengan reaktor berkapasitas besar.

Teknologi PLTN Terapung untuk Wilayah Pesisir

PLTN terapung merupakan pembangkit listrik tenaga nuklir yang ditempatkan pada unit atau kapal khusus. Teknologi ini berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk memasok listrik ke wilayah pesisir dan daerah terpencil yang menghadapi keterbatasan infrastruktur energi.

Menurut Rosatom, unit pembangkit terapung dapat menghasilkan listrik secara berkelanjutan tanpa bergantung langsung pada kondisi cuaca, sehingga berpotensi melayani kebutuhan kawasan industri maupun permukiman.

Untuk pasar internasional, Rosatom mengembangkan FPU-100 yang menggunakan reaktor RITM-200M dan dirancang agar dapat beroperasi di iklim hangat. Setiap unit memiliki kapasitas pembangkitan listrik 100 MW. Dengan dua unit, proyek di Malut direncanakan memiliki kapasitas total 200 MW.

Rosatom menyatakan reaktor seri RITM menawarkan desain yang lebih ringkas, daya keluaran lebih besar, serta interval pengisian ulang bahan bakar yang lebih panjang dibandingkan generasi reaktor sebelumnya. Teknologi ini dikembangkan berdasarkan pengalaman penggunaan reaktor kelautan pada armada kapal pemecah es bertenaga nuklir Rusia.

Sebelumnya, Rosatom telah mengoperasikan Akademik Lomonosov di Chukotka, Rusia, sejak 2020. Pembangkit listrik nuklir terapung tersebut menggunakan dua reaktor KLT-40S generasi sebelumnya.

Menurut data perusahaan, fasilitas itu telah menghasilkan hampir 1,4 miliar kilowatt-jam (kWh) listrik sejak mulai beroperasi.

Rosatom juga tengah mengembangkan proyek pembangkit nuklir skala kecil di sejumlah negara dan wilayah. Di Uzbekistan, perusahaan tersebut membangun pembangkit nuklir skala kecil yang menggunakan reaktor RITM-200N.

Sementara itu, di wilayah otonom Chukotka, Rusia, Rosatom membangun rangkaian unit pembangkit terapung FPU-106 dengan reaktor RITM-200S untuk memasok listrik ke kawasan industri pertambangan tembaga.

Rosatom Perluas Proyek Nuklir di Pasar Internasional

Rosatom menyatakan memiliki pengalaman dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di berbagai negara. Perusahaan tersebut mengklaim tengah membangun 27 PLTN di sembilan negara, sehingga menjadi salah satu pemain utama dalam proyek pembangunan pembangkit nuklir di pasar internasional.

Kerja sama dengan Indonesia menjadi bagian dari upaya Rosatom memperluas pemanfaatan teknologi nuklir, termasuk untuk kebutuhan listrik di wilayah yang memerlukan pasokan energi andal.

Bagi Indonesia, rencana pembangunan PLTN terapung di Malut menawarkan opsi baru untuk memenuhi kebutuhan listrik dan mendukung pengembangan ekonomi kawasan timur. Meski demikian, realisasi proyek masih bergantung pada pelaksanaan ketentuan kontrak, kesiapan teknis, serta tahapan pengembangan yang diperlukan sebelum pasokan listrik dapat dimulai.



(akn/ega)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads