Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan seluruh sumber daya alam RI akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal tersebut dilakukan menyusul arahan Presiden Prabowo Subianto terkait mode bertahan alias survival.
Bahlil menjelaskan, pemerintah menargetkan produksi gas meningkat hingga 3.000 MMSCFD pada 2028-2029. Saat ini, total produksi gas Indonesia tercatat sekitar 750 MMSCFD. Angka tersebut termasuk dari tambahan produksi gas dari sumur Jangkrik North East 6 (JNE-6) sebesar 290 MMSCFD.
"Sudah jelas arahnya adalah sumber daya alam kita, kita akan pakai untuk kepentingan domestik terlebih dahulu. Ini survival mode. Dengan penambahan hari ini 290 MMSCFD dan di 2028-2029 akan mencapai 3.000 MMSCFD, sekarang berarti overall sudah mencapai 750 MMSCFD karena eksisting kurang lebih sekitar 450 MMSCFD, sekarang tambah lagi sekitar 300 MMSCFD, berarti 750 MMSCFD," ungkap Bahlil dalam peresmian gas JNE#6 dan fasilitas produksi lapangan Maha-South Hub secara virtual, Kamis (22/10/2026).
Bahlil menegaskan, pemerintah akan mengalokasikan total produksi untuk kebutuhan domestik sebelum melakukan ekspor. Ia menegaskan, langkah ini dilakukan untuk kepentingan nasional, sesuai arahan Prabowo.
"Nah 2028-2029 mencapai 3000 MMSCFD, maka saya menindaklanjuti arahan Presiden, kita akan memprioritaskan kebutuhan domestik terlebih dahulu setelah itu sebagiannya kita akan melakukan ekspor. Ini sebagai bentuk dari pemanfaatan sumber daya alam kita," pungkasnya.
Opsi Setop Ekspor
Bahlil sebelumnya juga mengaku membuka opsi untuk menghentikan ekspor gas ke negara tetangga menyusul pernyataan Prabowo terkait mode survival dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Ia menegaskan, setiap kementerian harus mampu membaca arahan tersebut ke dalam implementasi program untuk mendukung upaya bertahan.
"Ya memang harus kita survival. Kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai presiden, pasti apa yang disampaikan Bapak Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks implementasi program untuk menuju pada survival," ungkapnya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).
"Jadi kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga. Karena kan harus survival kan, harus memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri ya," pungkasnya.
Simak juga Video Bahlil Umumkan Penemuan Cadangan Gas 5 Triliun Kaki Kubik di Kutai
(acd/acd)