Proyek Kilang Raksasa Balikpapan Segera Rampung, Penuhi 25% Kebutuhan BBM

Proyek Kilang Raksasa Balikpapan Segera Rampung, Penuhi 25% Kebutuhan BBM

Heri Purnomo - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 11:18 WIB
Pekerja mengecek peralatan di unit pemurnian LPG di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/12/2025). Unit Pemurnian yang merupakan salah satu unit baru yang dibangun di proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan itu mampu memproduksi mencapai 43 ribu ton per tahunnya guna memperkuat ketahanan energi nasional. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Ilustrasi Kilang RDMP di Balikpapan. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi (Menko Hiltrans) Bahlil Lahadalia menyebut proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur telah mencapai 99%. Proyek ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Bahlil mengatakan pekerjaan yang tersisa kini tinggal penyesuaian teknis dan commissioning peralatan baru agar kilang siap beroperasi optimal. Proyek Strategis Nasional dengan investasi US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp126 triliun itu diperkirakan dapat memenuhi 22-25% kebutuhan BBM nasional.

"Untuk RDMP keseluruhan sudah 99%, sudah selesai. Cuman apa ya, printil-printilannya lah, biasa lah barang baru kan. Barang baru itu kan ada karet-karetnya, kira-kira begitu lah. Tapi insyaallah kita akan selesaikan," tutur Bahlil dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan yang sama, pria yang juga merangkap jabatan sebagai Menteri ESDM itu menegaskan stok BBM nasional aman dan memenuhi standar minimum. Pertalite cukup untuk 16 hingga 18 hari, sedangkan BBM nonsubsidi RON 92, 95, dan 98 di atas 20 hari. Solar pun tidak menemui kendala karena kebutuhan nasional sudah terpenuhi tanpa impor. Kemudian untuk di Kalimantan, ketersediaan BBM relatif setara dengan rata-rata nasional.

ADVERTISEMENT

Selain memastikan ketersediaan BBM, Bahlil juga meminta Pertamina mengoptimalkan distribusi, agar BBM subsidi sampai kepada masyarakat yang berhak. Pengawasan penyaluran juga ditingkatkan bersama bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum (TNI/Polri), terutam untuk menindak tegas pelaku penimbunan.

Di sisi lain, tantangan distribusi BBM masih terjadi di sejumlah daerah. Bahlil mengungkapkan fenomena El Nino memicu pendangkalan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat sehingga sempat mengganggu jalur pengiriman BBM.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Pertamina memanfaatkan kapal sebagai tempat penyimpanan terapung atau floating storage. BBM kemudian disalurkan ke daerah tujuan melalui jalur darat.

(hrp/hal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads