Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteti ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah berencana meningkatan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite untuk tahun 2026 ini.
Bahlil mengatakan, rencana ini dilakukan menyusul adanya peralihan konsumsi masyarakat yang biasanya menggunakan BBM non subsidi kini mengkonsumsi Pertalite sebagai BBM subsidi.
"Pertalite nanti coba saya akan melakukan exercise nanti di akhir bulan ini ya. Tapi memang ada terjadi peningkatan dibandingkan dengan (target) 2026 ya. Ada kenaikan, karena ada kenaikan pasti akan terjadi penambahan kuota," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/12/2026).
Terkait rencana penambahan kuota tersebut, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan perhitungan kebutuhan anggaran subsidi apabila kuota Pertalite ditambah. "Ya pasti kita sudah memikirkan lah ya," ujarnya melanjutkan.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas melaporkan, realisasi penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) tahun 2026. Di mana hingga 30 Juni 2026 realisasi penyaluran solar subsidi telah mencapai 9,48 juta kiloliter (KL) atau 50,85% dari kuota yang ditetapkan pemerintah sebesar 18,64 juta KL. Sementara itu, penyaluran minyak tanah tercatat mencapai 0,26 juta KL atau 48,91% dari kuota 0,53 juta KL.
"Sementara untuk jenis Pertalite RON 90, realisasi penyaluran mencapai 13,96 juta kiloliter atau setara 47,68% dari kuota yang ditetapkan dalam APBN 29,27 juta kiloliter," katanya Wahyudi dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).
Dalam RDP yang sama, Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto juga mengatakan bahwa sejak Pertamina melakukan penyesuaian harga khususnya BBM non subsidi per 18 April telah terjadi peningkatan konsumsi BBM khususnya produk Pertalite dan biosolar.
Ia menyampaikan pada Januari-Mei yang belum alami kenaikan harga, porsi konsumsi Pertalite terhadap total konsumsi BBM jenis gasoline berada di kisaran 75%. Namun kini angkanya telah meningkat menjadi sekitar 80%.
"Dan ini mungkin salah satu lonjakan demand di berbagai wilayah khususnya di setiap MOR yang saat ini juga membuat perubahan operasi dari Pertamina Patra Niaga untuk bisa meng-cover build-up stock di semua jaringan lembaga penyalur kita khususnya SPBU," katanya.
(hrp/hal)