Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menargetkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM mencapai Rp 165 triliun. Target baru ini ditetapkan lantaran penerimaan negara dari sektor tersebut sudah mendekati target tahun ini.
"Saya menargetkan PNBP kita, dari target Rp 137 triliun, harus bisa mencapai Rp 165 triliun," tegas Bahlil yang juga Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).
Target tersebut lebih tinggi Rp 29 triliun lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar Rp 136,18 triliun. Hingga September 2026, PNBP yang terkumpul mencapai Rp 127,71 triliun atau 93,78% dari target tahunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capaian penerimaan tersebut terjaga meski pemerintah menahan produksi batu bara pada 2026 menjadi lebih rendah dibandingkan tahun lalu, ketika produksinya melampaui 800 juta ton.
Pemerintah kini lebih menekankan peningkatan nilai tambah ketimbang mengejar volume produksi semata. Hingga September 2026, PNBP sumber daya alam batubara sendiri mencapai 92,02% dari target APBN.
Lifting minyak pada 2025 diketahui melampaui target untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, yakni mencapai sekitar 605,9 ribu barel per hari.
Sementara dari sisi hilir, lima dari 14 smelter terintegrasi telah selesai dengan investasi US$ 7,8 miliar. Tahap berikutnya adalah pengembangan prekursor, katoda, hingga baterai untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Bahlil ingin nikel domestik menjadi jantung industri hijau dunia dengan pabrik domestik. Namun ia memberi satu syarat, pertambangan harus patuh pada kewajiban dalam negeri, reklamasi, dan keselamatan kerja.
Secara keseluruhan, investasi sektor ESDM pada 2025 mencapai US$ 31,97 miliar. Untuk mengejar target baru, Bahlil meminta seluruh pihak bekerja jujur, berani memutuskan, dan menuntaskan setiap target.
"Jangan hanya bikin konsep, konsep, konsep terus, tidak pernah mengeksekusi konsep," pungkasnya.
(ahi/hns)
