RI Pangkas Ekspor Gas, PM Singapura Minta Hormati Kontrak

RI Pangkas Ekspor Gas, PM Singapura Minta Hormati Kontrak

Retno Ayuningrum - detikFinance
Minggu, 25 Okt 2026 11:45 WIB
Singapores Deputy Prime Minister and Minister of Finance Lawrence Wong is sworn in as Singapores fourth Prime Minister next to Singapores President Tharman Shanmugaratnam and Chief Justice Sundaresh Menon at the Istana, in Singapore, May 15, 2024. REUTERS/Edgar Su/Pool
Foto: REUTERS/Edgar Su
Jakarta -

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong angkat bicara mengenai kebijakan Indonesia yang mulai memangkas ekspor gas pada Sabtu (24/10) kemarin. Wong meminta agar semua pihak menepati komitmen yang telah ditetapkan dalam kontrak komersial.

Wong mengatakan sebagian besar listrik Singapura dihasilkan menggunakan gas alam. Negeri Singa tersebut mengimpor sebagian besar gas ini dari Indonesia.

"Kemarin, Indonesia mengumumkan pemangkasan ekspor gasnya ke Singapura. Pasokan gas tersebut dilindungi oleh kontrak komersial. Kami berharap semua pihak menepati komitmen mereka," ujar Wong dikutip dari CNA, Minggu (25/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wong menambahkan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan mereka. Singapura sendiri, lanjut Wong, sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko gangguan pasokan.

ADVERTISEMENT

Wong menyebut pihaknya telah berinvestasi pada terminal gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) agar bisa mengimpor gas dari berbagai belahan dunia tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pipa.

Namun, ke depan, Singapura dinilai harus melangkah lebih jauh dari sekadar gas alam menuju sumber energi bersih yang andal sepanjang waktu. Salah satu opsi yang kini serius dikaji oleh otoritas setempat adalah energi nuklir.

"Bisa dimengerti jika ada kekhawatiran mengenai keselamatan tenaga nuklir di negara yang kecil dan padat penduduk seperti Singapura. Kami menanggapi kekhawatiran tersebut dengan sangat serius. Keselamatan harus menjadi prioritas utama," tambah Wong.

"Namun, kita seharusnya tidak langsung mengesampingkan suatu opsi hanya karena opsi tersebut sulit atau kontroversial. Kita harus menilai risiko dan komprominya secara cermat, melibatkan warga Singapura, dan pada akhirnya membuat keputusan yang tepat untuk mengamankan masa depan energi kita," sambungnya.

Mulai 2027, Singapura akan menggandeng Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) untuk menjalani proses Integrated Nuclear Infrastructure Review. Penilaian ini dinilai krusial untuk mengukur kesiapan negara dalam mengambil keputusan matang terkait program energi nuklir.

Sebelumnya, Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menyatakan pengurangan tersebut tidak sampai 2% dari total kebutuhan gas harian. Menurut EMA, keputusan tersebut hanya berdampak kecil terhadap pasokan gas bagi Singapura. Pengurangan pasokan gas sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari setara dengan 17 BBTUD. Pengurangan tersebut berlangsung selama 18 hari.

"Jumlah ini tidak sampai 2% dari total kebutuhan gas harian kami yang mencapai lebih dari 1.000 BBTUD," kata EMA seperti dilansir dari CNA, Sabtu (24/10/2026).

EMA juga menyebut para importir dapat mengambil langkah sesuai ketentuan kontrak untuk menyikapi gangguan pasokan gas dari Indonesia. EMA juga menyebut pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi pengurangan pasokan gas dari Indonesia.

EMA menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir, Singapura juga pernah mengalami pengurangan pasokan gas sebesar 20 hingga 100 BBTUD akibat pemeliharaan fasilitas, baik yang terencana maupun mendadak.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads