Follow detikFinance
Kamis 20 Apr 2017, 20:11 WIB

Ancaman Menanti Rupiah dari Negeri Paman Sam

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Ancaman Menanti Rupiah dari Negeri Paman Sam Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menunjukan adanya apresiasi nilai tukar rupiah sebesar 1,09% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama kuartal I-2017. Dalam perjalanannya dolar AS mencapai Rp 13.326.

"Selama triwulan I-2017 rupiah mengalami apresiasi sebesar 1,09% year to date (ytd) menjadi Rp 13.326 per dolar AS," tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Tirta Segara, di Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, Kamis (20/4/2017)

Penguatan rupiah didukung oleh aliran modal asing yang terus meningkat sejalan dengan prospek investasi pada aset domestik yang menarik bagi investor asing serta membaiknya faktor global. Aliran dana asing yang masuk tersebut terutama dalam bentuk pembelian saham dan Surat Utang Negara.

Kondisi rupiah yang stabil memang layak diapresiasi. Apalagi ketika kondisi global masih dilanda ketidakpastian yang memungkinkan pasar keuangan bisa saja bergejolak tiba-tiba.

BI tetap harus waspada ke depannya. Ada kekhawatiran nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Salah satunya adalah wacana normalisasi bank sentral AS The Fed dengan melepas US treasury note alias surat berharga.

"Untuk normalisasi The Fed itu kalau The Fed memegang sampai US$ 4,5 triliun, bentuknya sekitar US$ 3,5 triliun itu dalam bentuk US Treasury Note. Sisanya mortgage-backed security secara bertahap dia akan dilepas," jelas Asisten Gubernur Kepala Departemen Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo pada kesempatan yang sama.

Dengan demikian, likuiditas valuta asing (valas) di dunia akan berkurang yang nantinya berimbas pada penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, salah satunya Indonesia.

Lebih jauh Dody menjelaskan bahwa tidak perlu terlalu khawatir dengan wacana tersebut. Pasalnya fundamental ekonomi Indonesia masih terbilang kuat dan cukup menarik bagi para investor.

"Sepanjang fundamental dijaga akan masuk. Indonesia masih cukup diminati sepanjang return yang diperoleh oleh investor," tutur Dody. (mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed