Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 07 Agu 2019 11:05 WIB

Bukannya Berkurang, Kenapa Rentenir Online Kian Banyak?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno - detikfinance Foto: Sylke Febrina Laucereno - detikfinance
Jakarta - Layanan financial technology (fintech) pinjaman online atau yang juga disebut rentenir online saat ini memang sedang berkembang pesat di Indonesia. Tak hanya fintech yang terdaftar di regulator, fintech ilegal alias abal-abal yang tidak memiliki izin operasi resmi juga berjamuran di Indonesia.

Padahal satuan tugas waspada investasi telah memblokir ribuan fintech tersebut. Namun sepertinya makin banyak, seperti dibunuh satu, hidup lagi beberapa aplikasi. Apa saja ya penyebabnya?

Ketua satgas waspada investasi, Tongam L Tobing menjelaskan memang kemunculan fintech ilegal ini masih berkaitan dengan kemajuan teknologi. Orang bisa dengan mudah membuat aplikasi atau situs di internet. Kemudian penawaran di media sosial atau media sms juga menjadi sangat besar.


"Kemajuan teknologi informasi ini tidak bisa dipungkiri, kita lihat penawaran-penawaran fintech ilegal sudah merambah ke media sosial, SMS, Instagram, Whatsapp dan Facebook. Mereka menggunakan sarana ini untuk kegiatan ilegal mereka," kata Tongam saat berbincang dengan detikFinance, Selasa (6/8/2019).

Dia mengungkapkan, penyebab masih banyaknya fintech ilegal dan korban ini karena literasi keuangan masyarakat yang masih rendah. Karena itu, Satgas dan OJK berupaya untuk intensif melakukan edukasi kepada masyarakat tentang fintech pinjaman online ini.

Menurut Tongam, dalam edukasi yang disampaikan kepada masyarakat juga selalu disertakan tips aman ketika ingin menggunakan fintech pinjaman online, yakni yang terdaftar di OJK dan daftarnya ada di website ojk.go.id dan bisa menelepon ke kontak 157. "Jadi jangan gunakan yang ilegal," imbuh dia.


Dari data Satgas Waspada Investasi yang diumumkan di Bareskrim Polri, jumlah fintech peer to peer lending yang tidak terdaftar atau tidak memiliki izin dari OJK sebanyak 1.230. Angka tersebut dengan rincian di 2018 sebanyak 404 entitas dan 2019 sebanyak 826 entitas.

Berdasarkan hasil penelusuran terhadap lokasi server entitas tersebut, sebanyak 42% entitas tidak diketahui asalnya, diikuti dengan 22% dari Indonesia, 15% dari Amerika Serikat (AS), dan sisanya dari berbagai negara lain. Namun, hal tersebut tidak menunjukkan identitas sesungguhnya dari pelaku di balik entitas tersebut.

Simak Video "Telat Bayar Utang Fintech, Wanita di Solo Diteror"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com