Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 10 Okt 2019 17:24 WIB

Begini Cara Cegah Nasabah Curang di Tengah Maraknya Pinjam Online

- detikFinance
Foto: Nadia Permatasari/Infografis Foto: Nadia Permatasari/Infografis
Jakarta - Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan dalam peredaran fintech ilegal ini selain penyedia aplikasi juga ada peminjam yang nakal. Misalnya peminjam yang secara sadar mengajukan kredit ke puluhan aplikasi.

"Kita menduga ada nasabah nakal, bisa dilihat dari pinjamannya itu sampai 60-an aplikasi. Inikan pasti dia tidak mampu bayar, tapi dia selalu pinjam dari yang lain," kata Tongam saat berbincang dengan detikcom.

Pernyataan tongam itu setidaknya juga tercermin dara berbagai hasil penelitian soal kecurangan nasabah dalam memanfaatkan aplikasi pinjam online.


Di Indonesia, Survei Fraud Indonesia tahun 2016 oleh Asosiasi Penguji Penipuan Bersertifikat (ACFE) Indonesia Chapter menandai industri perbankan dan keuangan sebagai industri kedua yang paling
dirugikan oleh segala kegiatan fraud.

Laporan 2019 oleh AppsFlyer, berjudul "Penipuan meningkat: Bagaimana bot dan malware membahayakan Aplikasi APAC", menemukan bahwa tingkat kecurangan Indonesia di sektor keuangan adalah 43,1%, tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam (58,2%).

"Ketika aplikasi kredit semakin banyak dilakukan secara online, begitupun segala jenis penipuan atau fraud yang terkait. Bahkan, iovation mendokumentasikan adanya peningkatan sebesar 575% dalam penipuan identitas online terhadap pelanggan layanan keuangan kami dari 2015 hingga 2018," kata Wakil Presiden iovation dari Global Partnerships, Ed Wu.

Melihat fakta di atas, pencegahan kecurangan dalam industri pinjam online juga pelu menjadi perhatian serius. Mengingat cara kerja pinjam online yang berbasis layanan digital, maka sistem pengenalan nasbah juga harus didorong berbasis digital, sepert lewat aplikasi telpon selular.

"Credit scoring masa kini telah jauh melampaui sumber data yang tradisional untuk mendapatkan pemahaman dan juga menafsirkan perilaku pembayaran melalui kombinasi data tradisional dan data digital dari perangkat smartphone," kata Peter Barcak, CEO dan salah satu pendiri CredoLab.


Pihaknya sendiri telah bekerja sama dengan iovation, sebuah anak perusahaan TransUnion, yang berspesialisasi dalam deteksi penipuan dan solusi otentikasi berbasis perangkat smartphone untuk menyediakan layanan pengenalan nasabah.

"Iovation memberikan analisis data digital mutakhir untuk membantu mengidentifikasi pelanggan yang baik dari para penipu dengan seksama," tuturnya.

CredoLab memanfaatkan program FraudForce dari iovation dalam aplikasi CredoApp, CredoApply dan CredoSDK mereka.

FraudForce membantu bank dan perusahaan pemberi pinjaman membedakan transaksi yang sah dari transaksi yang mencurigakan, dengan mengevaluasi berbagai akun yang ada di perangkat smartphone, riwayat kegiatan di perangkat smartphone, juga perilaku penggunaan perangkat smartphone yang mencurigakan.

CredoApply menyediakan kecerdasan perangkat yang mencakup 45 jenis pemeriksaan penipuan aplikasi, verifikasi alamat rumah dan kantor, verifikasi pekerjaan, pengumpulan dokumen
KYC dan penilaian kredit alternatif.

"Dengan penambahan program FraudForce, CredoApply menjadi aplikasi perkenalan dan penerimaan pelanggan digital seluler yang jauh lebih kuat," tandas dia.

Simak Video "Telat Bayar Utang Fintech, Wanita di Solo Diteror"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com