Gojek dan Grab Mau 'Kawin'?

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 25 Feb 2020 12:21 WIB
Gojek meresmikan logo barunya yang melambangkan kekuatan ekosistem Gojek sekaligus apresiasi kepada seluruh pengguna dan mitra Gojek. Peresmian ini dihadiri langsung oleh Founder dan CEO Gojek Nadiem Makarim.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Beredar kabar Gojek dan Grab sedang dalam pembicaraan untuk merger alias melebur. Beberapa media asing menulis kabar tersebut dengan mengutip sumber.

Salah satunya adalah Tech in Asia yang mengutip The Information, Selasa (25/2/2020), menulis kedua 'musuh bebuyutan' itu masih jauh dari kata sepakat untuk merger. Masih banyak yang harus dibahas lebih lanjut, seperti valuasi perusahaan dan lain-lain.

Menurut sumber tersebut, Grab sudah melaporkan ke para investornya jika Gojek minta 50% kepemilikan saham di perusahaan baru hasil 'perkawinan' dua unicorn tersebut. Sementara Grab ingin menguasai penuh perusahaan baru tersebut.

Rumor merger antara dua perusahaan penyedia transportasi darat ini mulai muncul setelah pendiri Gojek Nadiem Makarim mundur untuk jadi menteri pendidikan RI Oktober lalu.


Kompetisi antara Grab dan Gojek memang makin sengit, keduanya tak segan-segan bakar duit demi memberi subsidi dan promosi kepada pelanggan.

Tech in Asia juga melakukan hitung-hitungan apakah merger antara Grab dan Gojek ini bisa masuk akal dan menguntungkan. Perhitungannya, perusahaan hasil merger itu bisa menghasilkan omzet hingga US$ 16,7 miliar (sekitar Rp 240 triliun) setahun dengan valuasi hingga US$ 72 miliar (Rp 1.000 triliun) di 2025.

Sampai berita ini diturunkan, detikcom masih berusaha menghubungi Grab dan Gojek untuk konfirmasi.



Simak Video "Gojek Kembangkan Fitur Baru untuk Cegah Order Fiktif"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/eds)