Sri Mulyani Beberkan Data Ekonomi Digital RI di Tengah COVID

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 11 Nov 2020 16:44 WIB
foto profil
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan potensi ekonomi digital Indonesia sangat luar biasa pertumbuhannya. Dirinya menyebut, potensi pertumbuhannya bisa dua sampai empat kali lipat hingga tahun 2025.

Berdasarkan data yang diterimanya, dia menyebut internet mengalami pertumbuhan dari US$ 40 miliar menjadi US$ 133 miliar atau naik tiga kali lipat di tahun 2025. Begitu juga dengan e-commerce dari US$ 20 miliar menjadi US$ 82 miliar atau naik lebih dari empat kali.

Selanjutnya, dikatakan Sri Mulyani mengenai online travelling dari US$ 10 miliar menjadi US$ 25 miliar atau naik dua setengah kali, begitu juga dengan media dari US$ 3,8 miliar ke US$ 9 miliar dan ride hailing dari US$ 5,7 miliar menjadi US$ 18 miliar di 2025.

"Artinya Indonesia sangat memiliki potensi luar biasa dalam bidang ekonomi digital," kata Sri Mulyani dalam acara Indonesia Fintech Summit 2020 yang digelar secara virtual, Rabu (11/11/2020).

Angka-angka potensi itu bisa diwujudkan, kata Sri Mulyani dengan infrastruktur teknologi yang memadai. Infrastruktur yang memungkinkan semua penduduk Indonesia memanfaatkannya.

Dia menyebut setidaknya ada empat isu yang menjadi fokus pemerintah untuk mewujudkan potensi ekonomi digital. Sebanyak empat isu itu juga menjadi hasil riset dari World Economic Forum, yaitu ICT, kapasitas sumber daya manusia (SDM), institusi, dan regulasi.

"Kalau kita lihat infrastruktur saja, pemerintah karena situasi tahun ini ada COVID, kita agak slow down tapi dalam APBN 2021, kita akan alokasikan Rp 413 triliun untuk infra plus untuk ICT Rp 30 triliun," ujarnya.

Dana investasi ICT itu, dikatakan Sri Mulyani untuk membangun stasiun transmisi di lebih dari 5.000 desa dari sekitar 12.000 desa yang belum terkoneksi internet. Selain itu, pemerintah juga akan membangun pusat data nasional, serta digitalisasi sektor pendidikan.

"Ini opportunity. Dengan adanya COVID kita dipaksa pindah ke digital. Kenaikan penggunaan internet tidak hanya pendidikan, kesehatan, tapi juga pemerintah luar biasa meningkat," ungkapnya.

(hek/dna)