Nah Lho! Dolar Digital cs Bisa Jadi Ancaman Menakutkan

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 20 Apr 2021 12:06 WIB
VANCOUVER, BC - OCTOBER 29: Gabriel Scheare uses the worlds first bitcoin ATM on October 29, 2013 at Waves Coffee House in Vancouver, British Columbia. Scheare said he just felt like being part of history. The ATM, named Robocoin, allows users to buy or sell the digital currency known as bitcoins. Once only used for black market sales on the internet, bitcoins are starting to be accepted at a growing number of businesses. (Photo by David Ryder/Getty Images)
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Wall Street memprediksi pengganggu besar pada pasar adalah mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currencies (CBDC). Meskipun bank sentral AS, Federal Reserve kemungkinan masih beberapa tahun lagi untuk mengembangkan dolar digital tersebut.

Namun, beberapa negara besar seperti China dan negara kecil Bahama telah menginisiasi uang digital untuk transaksi masyarakatnya saat uang tunai mulai kurang diminati.

Mengutip dari CNBC, Selasa (20/4/2021), dolar digital diprediksi menyerupai mata uang kripto seperti Bitcoin atau Ethereum. Meski akan seperti kripto terbesar dunia, dolar digital berfungsi seperti uang pada umumnya dan memiliki penerimaan luas. Tentunya akan sepenuhnya diatur, diawasi, dan di bawah otoritas pusat.

Kepala Ekonom di Morgan Stanley Chetan Ahya mengatakan sebuah langkah besar untuk memperkenalkan mata uang digital bank sentral (CBDC) sebenarnya dapat mengganggu sistem keuangan. Dia menyebut, hingga kini 86% bank sentral tengah mengeksplorasi terkait CBDC.

Pada survei tahun 2020 dari Bank for International Settlements menunjukkan hampir setiap bank sentral di dunia setidaknya melakukan eksplorasi mata uang digital. Sekitar 60% sedang mengerjakan pengujian bukti konsep, meskipun hanya 14% yang benar-benar meluncurkan program percontohan atau sedang dalam pengembangan.

Menurut Citigroup saat ini tengah masuk era Uang Digital 2.0. Banyak negara dan bank sentral berlomba untuk menyambut era tersebut. China pun dianggap sebagai pemimpin yang mengawali pembuatan mata uang digital sendiri.

Dengan peluncuran yuan digital tahun lalu, beberapa orang khawatir keunggulan China pada akhirnya dapat merusak status dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Meskipun China mengatakan itu bukan tujuannya.

Laporan Bank of America mencatat mengeluarkan dolar digital akan membuat mata uang AS tetap sangat kompetitif dibandingkan dengan mata uang lain.

"CBDC menawarkan keuntungan dari peningkatan transaksi moneter, tanpa efek samping yang merugikan dari mata uang kripto," tulis ekonom Bank of America Anna Zhou.

Beberapa negara lain telah bergerak maju setelah Bahama pertama kali dengan mata uang digitalnya. The Fed saat ini sedang mengerjakan proyek CBDC bersama dengan Massachusetts Institute of Technology untuk mengevaluasi keefektifan dolar digital, meskipun tidak ada jadwal khusus tentang kapan atau apakah bank sentral AS akan bergerak maju.

"Ada banyak pilihan kebijakan dan desain yang sulit dan sulit yang harus Anda buat. Kami belum mengambil keputusan karena, lagi-lagi pertanyaannya apakah ini akan menguntungkan masyarakat yang kami layani? Dan kami perlu menjawab pertanyaan itu dengan baik. " kata Gubernur The Fed Jerome Powell baru-baru ini.

(ara/ara)